270506 (RICHTER 5,9)

1.
dan dada-dada pun lantak
bergegas, darah dan luh pun suntak
gemeretuk gigi mengunyah takbir
jantung yang bah oleh debar zikir

tak ada lagi gelak
hanya ngilu, belulang retak

bumi tersayat
kidung ribuan mayat

kaki-kaki tergupuh
nurani melepuh

ada yang tertatih
mencatat rintih

2.
sabda-Mu
gempa jantung-Ku

dan nama
yang berulang kali
kudengar
gaung di
dasar
palung

gugurlah
batu-batu
yang susun
dinding hati

runtuhlah
genting-genting
sirap penutup
atap sajak-Mu

dan di ujung senja
cekam pukau-Mu:
gentar isakku

3.
sayup-sayup
ada yang membaca kidung
megatruh dan dandanggula
desau lirih dan daras doa
membubung dari kerjapan mata

aroma luka
masih mencekam
ada yang coba
melipur duka

dan jiwa-jiwa yang ringkuk
di pelataran tanpa tenda
kuyup oleh luka tanya

di dinding puing
ada yang menggambar lidi
menghitung siapa pergi

takkan ada mimpi malam ini
hanya resonansi
getar dawai kecapi
berdenting
di embun pipi

4.
ada yang berdoa
di lorong kota yang memar
mencoba cerna
jejak-jejak yang terbaca

ada yang gemetar
menggerus remah bata
ada yang memompa nafas
ke mulut bocah
berebut detak jantung
dengan aspal pecah

ada bibir setangkup
merapal huruf
dan kaki tanpa sepatu
mengeja. langkah setapak
demi setapak

inikah pematang:
jalan itu?

5.
hujan semakin
asamkan luka

dan malam terulur begitu panjang
sepanjang pilu

sedangkan lapar dan naung tenda
tak bisa menunggu

cekat di pangkal gulu
ampak di hulu dada
rembes ke belik mata

lalu apa
yang lebih sadis
dari gerimis
saat amis tangis
merebak miris

lalu siapa
yang lebih tega
dari penyair ini
hanya bisa mencatat puisi
saat lapar dan gigil bayi
hanya dihibur lagu nasihat basi
di stasiun radio tanpa hati

yk, 27 malam – 28 pagi

Dimuat di Tabloid Apakabar Indonesia (terbit di Hongkong) – edisi 08/Th I/23 Juni – 6 Juli 2006

2 Replies

  1. cls Reply

    Yang hendak terkata sudah terkatakan.tergambarkan.teramat jelas.
    Salam dalam doa dan perenungan.


    juga tindakan ?!

  2. dyodyo Reply

    tunduk kepala dan berdoa dalam pilu..

    **mas teg, puisinya serasa memutar gambar2 keadaan disana..

    salam duka,

Reply