75. Belajar Diam, Ritual Sunyi

PENYAIRKU sayang, konon seorang kekasih Tuhan sampai mengulum batu di mulutnya untuk menjinakkan lidahnya. Belajar diam, kelihatannya salah satu pintu ke lorong kearifan. Peristiwa jalan kaki mengelilingi benteng karaton kesultanan Yogyakarta setiap 1 Suro/Muharam juga mensyaratkan kebisuan. Juga peristiwa-peristiwa kebatinan lainnya, menuntut kediaman yang kusyu. Konon pula, beberapa penyair meyakini puisi adalah jalan sunyi, sendiri. Jalan diam. Jika prosa adalah peristiwa bicara, maka puisi adalah peristiwa diam. Mungkin kesimpulan yang gegabah, tapi biarlah kuambil resiko itu dalam catatan ini.

Maka jika kau tiba-tiba dikejutkan oleh tamu kata-kata, yang diundang maupun tak, hilir-mudik di pelataran sajakmu menunggu kaupersilakan masuk, tunggulah barang beberapa jenak. Diam. Beberapa akan layu dan lalu, beberapa akan tinggal. Mungkin kata-kata yang sabar menunggu dan memutuskan tinggal di teras sajakmu itulah yang sungguh-sungguh siap menemani diammu. Ataukah tak?

orang-orang bergegas
memburu daun gugur
di hirukpikuk kata

penyair masih bermain catur
dengan segelas anggur

Reply