76. Makhluk Jejadian yang Kausebut Puisi

APAKAH kaukira boneka yang kaubentuk dari lempung bahasa itu adalah puisi, o Penyairku? Apakah dengan meniupkan ruhmu lantas ia serta-merta hidup pada teriakan, “Kun!” begitu saja? Ataukah kau bacakan mantera-mantera terlebih dahulu, lalu kaukumpulkan arwah-arwah dari negeri halimun, baru kemudian kaubuatkan sangkar untuknya dari lidi kata-kata?

Ataukah kaujahitkan setiap helai benang pada selembar cita, dengan kausertai kidung dari denting sitar kalbumu paling bening, begitu kaulakukan pada setiap untai hingga terrajut gambar siluet batu nisan di kaki pohon kamboja berlatar belakang senja?

Jawablah, Penyairku. Bukan dengan kata-kata atau sajak. Jawablah dengan gerak hati sebelum kaupejam mata menjelang tidur malammu. Di sana, di gerbang mimpimu, Puisi ada menunggu.

Reply