Musafir dan Malam yang Lain

mencari ruh puisi
di liang-liang garba
surga pertama
tempat ditiupkan
hawa sajak
dan satu senyuman

dan di malam yang lain penyair terkapar oleh luka-luka menahun yang dipelihara dengan setia. dan di malam yang lain itu ditoreh-toreh jantungnya dengan siladan bambu kuning agar selalu diingatnya perih suatu masa. dan di malam yang lain selalu ada perjamuan dengan embun di ujung pandan, dan duri yang bertasbih. dan di malam yang lain penyair terdampar di negeri tanpa angin

dan ia menjadi burung
terbang di lorong-lorong asing
di mana setiap punggung tebing
berbagi dongeng dan degup jantung

dalam bahasa yang pernah ia kenal
bahasa rahim dan lubang garba
tempat semua yang pergi dan datang
pulang ke ladang kekal

Reply