Perawi Hujan

perawi yang bersahabat dengan hujan. berpunggung api. menyala. hujan berdesis terpanggang bara di punggungnya. begitulah mereka berbincang. dalam keakraban yang sumbang

perawi yang bersahabat dengan hujan. berpunggung api. membara. ia coba tangkap hujan dengan tangkup tangannya. tapi hujan berkelit, menolak terperangkap dalam puisi

perawi yang bersahabat dengan hujan. berpunggung api. mendesis. hujan begitu liris dalam catatan harian. ia menulis kisah-kisah tentang sungai merah dan awan jingga. di sana bersemayam wajah-wajah yang ia kenal. menyelinap dalam mimpi-mimpi musim api. musim yang menyalakan api di punggungnya. membakar mega hingga jingga. saat-saat serupa itu, hujan tampak sinis. tanpa iba yang tak perlu

perawi yang bersahabat dengan hujan. berpunggung api. melepuh. setiap malam ia tunggu hujan runtuh, dengan kerinduan yang gemuruh. tapi ia terlahir dengan punggung terpanggang. api yang tak kunjung lunas membakar kenang. sedang hujan begitu setia mengetuk gerbang dada, terasa begitu karib. serupa kentongan surau di ambang magrib

perawi yang bersahabat dengan hujan. berpunggung api. menari. dalam derap hujan. deras merajam pipi

1 Reply

  1. !! Reply

    kaya bala… puisinya kadap

Reply