78. Menyelami Kedalaman

I.
PUISI, Penyairku, sepertinya takkan pernah dapat tuntas dijelaskan. Semakin tersingkap satu tabir misterinya, semakin luas ruang ketidaktahuan yang tercipta.

Kita pernah bersetuju tentang pentingnya kejujuran dalam berpuisi. Toh, sedalam apa kejujuran itu dimaknai ternyata berbeda untuk setiap orang. Jangan berbangga hati dulu karena merasa telah jujur saat menulis sebuah sajak. Jujur dalam apakah? Apakah jujur menuliskan semua yang kaurasakan? Jujur mengakui semua perasaan lalu mengungkapkannya dalam sajak? Ataukah jujur dalam hal dan kadar yang lain?

Jika kau pikir puisi hanya sekadar alat melepaskan emosi, maka sekadar itu pulalah sajak-sajakmu akan menjadi. Tentu saja menulis sajak secara demikian tidaklah keliru, bahkan kadang sungguh perlu. Seperti perlunya kita buang air besar saat perut terasa mulas, buang ingus saat hidung mampat, atau mengumpat saat amarah tersumbat. Puisi pun seolah menjadi lubang pelepasan limbah emosional, bahkan menjadi limbah itu sendiri. Limbah memang harus dibuang, tetapi sekadar itukah produk kejujuran dalam (ber)puisi? Sekadar keberanian untuk berani kentut secara berbunyi alih-alih sembunyi-sembunyi?

II.
EMOSI muncul sebagai tanggapan atas tangkapan indrawi. Lalu muncullah asumsi-asumsi, hubungan-hubungan logika, dan pola-pola pikiran yang sangat mungkin berkembang jalin-menjalin tak terkendali. Lalu danau di dada kita yang semula tenang pun beriak-riak, bahkan tak jarang menggelegak seperti semangkuk kuah yang mendidih. Tetapi, jarang yang mencoba menggali sampai ke sumber dari mana emosi itu berasal.

Dalam agama nenekku ada anjuran untuk “niteni”, mencatat, lalu setelah itu “ngonceki”, mengupas. Artinya semua fenomena yang terjadi di sekitar kita perlu dicatat, diamati, tetapi perlu disadari bahwa semua yang tertangkap indra itu bukanlah kenyataan yang sejati. Semua yang kita catat-amati itu haruslah dikupas dahulu, dilucuti dahulu lapis-lapis yang kasat mata, diperas sampai ketemu inti maknanya yang dalam bahasa lain seingkali disebut sebagai hikmah.

Emosi, juga pikiran-pikiran itu, adalah representasi ego, penghalang terbesar dalam menuju kenyataan sejati itu, semacam daya tolak air yang menghambat penyelaman ke kedalaman samudra hikmah. Para guru yoga, juga para mursyid tarekat, sering mengajarkan latihan-latihan untuk menjinakkan ego, melunakkan emosi dan mengarahkan pikiran yang mengembara. Latihan-latihan untuk melepaskan ego dari kelekatan dengan dunia tampak. Terlalu mengidentifikasikan diri dalam menghadapi relaitas kasat mata akan menghalangi kita menemukan kenyataan sejati di sebaliknya.

III.
MENYELAM, aku tahu, makin ke dalam semakin berat. Resikonya pun banyak. Kehabisan oksigen atau tersesat di goa karang. Begitu bahayanya sehingga dituntut konsentrasi yang tinggi. Pikiran yang bercabang sedikit saja dapat beresiko maut. Semakin banyak berkata-kata atau bergerak yang tak perlu benar, semakin besarlah resiko celaka yang dihadapi. Tetapi sebahaya apa pun penyelaman itu, harta karun itu memang harus ditemukan di kedalaman samudra gelap bernama puisi. Di negeri yang lain, di mana wangi ratus dan dupa-dupa menghiasi atmosfernya, penyelaman ini konon sering disebut meditasi.

Kejujuran yang sejati adalah kejujuran yang tak kasat mata, keberanian untuk melihat ke dalam diri sendiri. Bukan sebagai tuan rumah yang pamer tata ruang interior kamarnya, melainkan sebagai tamu yang memasuki relung-relung paling gelap dan paling rahasia dalam diri. Kejujuran untuk berani mengenali, mengakui, untuk kemudian menjinakkan binatang buas bernama ego, identifikasi “aku”. Menerima apa pun wajah-wajah yang kita jumpai karena itulah wajah-wajah kita sendiri, seburuk dan seseram apa pun.

Dan bila saatnya kau menemukan relung itu dalam penyelamanmu, mungkin di kegelapan dasar sana dapat kaupetik sekuntum puisi dari jenis yang lain; puisi-puisi yang mampu bersinar di kegelapan kedalaman palung jiwa-Mu.

1 Reply

  1. ivonne Reply

    Puisi dan syair syair bukanlah anak bagiku
    mereka adalah isyarat geliat resah
    bahasa jiwa dunia yang berbisik dalam temaram senja
    dihembuskan oleh musim semi untuk musim dingin
    membawa rahasia mimpi mimpi para sufi tentang dunia
    puisi dan syair adalah bahasa dunia
    nyanyian penghibur setiap lara
    nasehat dari masa masa
    muncul begitu saja tanpa perlu diselami
    karena dia adalah ibu bumi
    akan menemuimu begitu geliat resah jiwamu terdengar olehnya

Reply