79. Anak Ruhani yang Manja

BILA kau masih menganggap sajak-sajakmu, anak-anak ruhanimu, sedemikian penting dan berharga dan makna yang kausematkan padanya begitu keramat sehingga harus kaupagari dengan terali tafsirmu sendiri, maka kau sedang menjadi seorang ibu yang tak membiarkan anakmu berangkat ke surau pergi mengaji karena kau takut kehilangannya barang sejenak.

Kata para guru ruhani rasa kepemilikan atas apa pun, Penyairku, konon adalah gejala kekerdilan ego. Di negeri puisi, ini seperti orang buta yang menolak mukjizat penglihatan karena takut apa yang akan dilihatnya nanti tak serupa dengan yang selama ini dibayangkannya dalam kegelapan.

kataku Bunga, katamu Akan
kataku Telah, katamu Bantal
kataku Batal, katamu Nanti
kataku Lupa, katamu Puisi

2 Replies

  1. pensilpatah Reply

    katamu puisi,kataku tai
    katamu indonesia, kataku biadab

  2. ananto prasetyo Reply

    assalamualaikum

    aku cium kaki ibu dengan tanganku
    yang berdebu setelah…
    yah setelah dentuman itu
    tepat dibelakangku… keras…

    maafkan ibu rumahmu roboh ketika
    aku sedang sibuk di halaman belakang

    maafkan aku yang tak bisa menjaganya
    cita-cita yang masih terbaring
    setelah semalam masyuk dalam angan

    wassalamu’alaikum

Reply