80. Bagaimanakah Meningkahi Komentar?

PENYAIRKU, jika pertanyaanmu itu kau ajukan ke beberapa orang, mungkin kau akan mendapatkan beberapa jawaban pula. Sangat mungkin jawaban-jawaban itu saling menguatkan atau bahkan mengingkari satu dengan yang lain. Lalu (mungkin) kau pun menjadi kian bimbang.

Komentar, Penyairku, biar datang dari seorang penyair senior sarat pengalaman sekali pun, tetaplah hanya sebuah komentar yang subjektif sifatnya. Ia boleh kauikuti, boleh kauingkari, boleh kaumasak lagi sebelum kaumamah.

wahai, inilah baris pertama sajakku
dan ini baris kedua
meski masih berada di bait pertama

maka inilah bait kedua
di baris yang terakhir

Komentar:

  1. Penyair A:
    Wah, baris terakhir kok hambar ya… Gimana kalau dibuang aja?
  2. Penyair B:
    Aku suka bait kedua, bait pertama kayaknya mubazir deh..
  3. Penyair C:
    Hmm… bait kedua terlalu boros. Mungkin lebih efektif kalau diringkas jadi baris terakhir saja.

Nah, Penyairku, bayangkan kalau semua komentar itu kauikuti, jadi apa sajakmu nanti? Komentar, Penyairku, boleh membantumu sedikit membaca respon para pembaca sajak-sajakmu. Tak lebih. Silakan kau cerna sebagai saran, atau sekadar salam.

Ah, Penyairku, daripada berlelah-lelah meratapi sajak-sajakmu yang telah kautetapkan jadi, kenapa tak bikin sajak-sajak baru sahaja? Komentar bukanlah fatwa yang harus kauimani sebagai sabda suci, karena tiada dosa dalam (ber)puisi. Tak?

1 Reply

  1. HAH Reply

    saya juga kecanduan POESI. 🙂

Reply