82. A M B A N G

SEORANG penyair ada bertutur bahwa ada alam berkabut misteri di setiap wilayah perbatasan, wilayah ambang. Di wilayah itu jiwa manusia terombang-ambing di tengah-tengah timbangan dualisme. Wilayah yang berada di antara yang gaib dan tampak, basah dan kering, terang dan gelap, nyata dan imajiner, najis dan suci, iblis dan malaikat, bunyi dan sunyi. Seorang ruhaniwan menjelaskan alam tersebut sebagai ambang antara iman dan ingkar.

Dalam alam puisi, Penyairku, ada banyak kautemui sajak-sajak yang lantang atau yang lirih, yang terang atau yang gelap, yang merayu atau yang meradang, yang suci atau yang kotor, yang damai atau yang resah, yang tegas atau yang kias. Ada sedikit yang hadir di ambang antara lantang dan lirih, antara terang dan gelap, rayu dan radang, suci dan najis, damai dan resah, tegas dan kias. Yang sedikit ini, sajak-sajak yang berani hadir di alam ambang, wilayah perbatasan itu, biasanya lebih mampu memancarkan sihir atau prana. Mungkin karena lingkupan kabut misteri yang cukup transparan untuk menampakkan sosok sang sajak sekaligus cukup pekat untuk menyembunyikan wajahnya sedemikian rupa agar pukau tetap terjaga.

Sebagaimana umumnya dunia misteri, tak mudah untuk memasuki alam ambang ini. Dibutuhkan keberanian serta energi-dalam yang lebih, sebab di sebalik sunyi yang mengembun ada tersembunyi cekam yang menggeram.

Penyairku, siapkan lampu sentermu!

1 Reply

  1. Luther Reply

    hiii… koq jadi merinding ya? ini kursus belajar ilmu puisi atau ilmu gaib?

Reply