83. Arkitektonika

BAYANGKANLAH sebuah bangunan gedung yang beragam bentuk dan gayanya. Biarpun bentuk dan gaya beraneka ragam, gedung-gedung itu ada memiliki bagian-bagian penting seperti atap, dinding, pintu, tiang, gelagar, fondasi, lantai, jendela, dll. Bagian-bagian itu diatur-susun sedemikian rupa menurut reka-rancang sang arkitek berdasarkan dalil-dalil komposisi untuk mendapatkan tatanan yang paling pas baik itu secara estetik, ergonomika maupun fungsi.

Begitulah, puisi, jika kaulihat sebagai sebuah bangun bangunan pun memiliki elemen-elemennya yang dapat engkau susun, engkau bentuk dan atur menurut tata nilai yang engkau yakini. Selain memiliki kelengkapan unsur-unsur yang selayaknya, ia juga memiliki kualitas dan kekhasannya sendiri.

Penyairku, sudahkah bangunan puisimu berdiri di atas lahan yang kausiapkan? Sudahkah atap ide, ruang tafsir, dinding bunyi, lantai kata, fondasi niat pun pintu dan jendela metafora engkau tata-rangkaikan sedemikian rupa sehingga puisimu berdiri kokoh, mantap, nyaman dimasuki?

1 Reply

  1. Cubluk Reply

    kalau sudah ada bangunannya, berarti ‘ruh’ puisi adalah hantu penghuninya? Gitu ya, Oom? kakaka…

Reply