B e g i t u l a h

begitulah, begitu sering kita berbicara pada rumput jarum dan putri malu. melelahkan seperti setiap kali kaugali belulang dari kubur waktu. kadang kita lupa, betapa di setiap jengkal ladang kita telah kita percikkan air bunga. pun dupa di bibir perigi, sumber kehidupan kita setiap pagi. sejauh mungkin kita singkirkan keluh, bersama setiap helai rambut yang kita basuh. mungkin kalender tak selalu bersepakat tentang hari dan tanggal, tapi marilah, kita sobek setiap lembarnya dengan kusyuk. mungkin bersamanya dapat kita buang pula peluh yang mengembun di bilik jantung, atau berita yang membusuk terbakar matahari.

begitulah, agar setiap pelukan dan usap kening mampu mengeringkan radang di simpul kelenjar, memijah ayat-ayat doa agar tumbuh larva di kepompong dada kita menjelma jadi kupu-kupu berdaun embun. lalu di ambang senja kita akan berteduh di tudung bilah-bilah gambang. lalu kita mengaji dhandhanggula sambil menorehi tiang rumah kita dengan kapur gambir. begitulah, pelan-pelan mata kita lalu memejam.

Reply