Di Pohon yang Ketiga

di pohon yang ketiga kau berhenti lalu mengucap salam. “ini saudara sepersusuanku. dikutuk oleh ibu, karena mencuri susu dari celana ayah,” katamu sambil memeluk batangnya yang penuh luka pisau para penyadap. lalu di pohon yang ketiga itu, tepat di pangkal pokoknya, kau taburkan sejumput kopi bubuk dan selinting rokok tembakau. lalu dalam bahasa purba kau berbincang dengannya, mengenang kisah-kisah lampau, rahasia antara sang pohon dan kau. “dahulu kami suka mengintip payudara para gadis penggembala kerbau,” kenangmu sambil kau simpulkan seutas tali di sebuah dahan di pohon yang ketiga.

lalu kauceritakan tentang gadis-gadis itu. konon di jaman lampau, tiap gadis punya tiga payudara. lalu datang seorang jejaka, Tarub namanya. sang jejaka mengintip gadis-gadis mandi, tak sanggup ditahannya birahi, lalu dengan selendang yang dicuri ia puaskan imajinasi. sang gadis hilang selendang, hanya punya dua tangan menutup buah-buah di dada. lalu satu buah yang malu, jatuh menjadi batu. sejak itu, para jejaka gemar mencuri selendang, dan di sungai semakin banyak batu, berjatuhan dari dada para gadis yang malu. demikianlah, katamu. dan pohonmu itu seperti mendengar, seperti tahu kisah itu.

dari bekas luka pisau sadap di batangnya, keluar cairan putih susu. kaujilat sedikit. lalu kau sadap dadamu sendiri dengan satu torehan memanjang. dari luka yang serupa keluar cairan juga, putih susu warnanya. pohon yang ketiga itu tiba-tiba layu. lalu di dahannya, di ujung seutas tali yang tersimpul, kaugantungkan tubuhmu. “ini saudara sepersusuanku,” pesanmu, kautuliskan di sepucuk surat dalam amplop kecil terpaku di sebatang pohon. pohon yang layu bersimbah getah seputih susu. pohon yang ketiga itu.

demikianlah, di sebatang pohon yang layu, ikut mati sebatang hikayat tentang lelayu saudara satu susu.

1 Reply

  1. cahayu Reply

    Ahh, mengapa aku merasa pohon yang ketiga itu : aku. Sebatang pohon layu, dikutuk ibu, tak ada yang memungutku…

Reply