Di Rimbun Mangrove

lewat kartuposmu kau kirimkan kisah tentang hutan yang tumbuh di lumpur pasir di mana kau tuliskan hikayat tentang teluk bakau dan kelindan batang akar yang rimbun seperti janggut lebatmu yang sengaja tak kau cukur, ceruk di mana kau tanam telur-telur kepiting cangkang lunak. lalu di foto hitam-putih kartuposmu kau bisikkan juga mimpi-mimpimu menjelang pagi. di mana kau lihat ombak lautan yang jinak bergurau dengan rimbun mangrove, jemari bakau yang rajut. kau lihat anak-anakmu telanjang mendayung jukung saat kau berlayar memacu jungmu memukat arwah Ruci di kedalaman palung, meski harus kau jejaki setiap bandar dari tanjung ke tanjung. dan saat kau pulang ke pesisir perempuanmu, kau serahkan batang bakaumu ke ketam supit kepiting bercangkang lunak yang kausemai di hari lampau. lalu kausarungkan jungmu ke dalam rimbun mangrove seperti Bima menelusup liang kuping sang Ruci, arwah suci yang seumur benua kaucari-cari.

Reply