Di Serat Batu

tersembunyi di serpih serat batuan, sepucuk berita telah memfosil tersebab tunggu, sehingga panjang waktu hanya bisa kau urai dari separuh jam arang: rekaman wawancara dengan tuhan, kini jadi selebriti di kitab suci dan kaus dalam para kyai. tersurat di kitab biologi, memoar atas ingatan yang kau titipkan pada cangkang kura-kura dan bintang laut, pada duri landak dan kambang ganggang. lalu kau kentalkan getah batang konifer, sebab aromanya adalah pintu rahasiamu ke ruang bawah tanah di mana kau simpan majalah-majalah rahasia berisi gambar-gambar rahasia tentang kisah Adam dan Hawa. kadang kau cuil kutil benalu, sebab di dalamnya tersimpan jerawat waktu, semacam jurnal yang tercecer lalu dipulung oleh kupu-kupu.

sini, mari kutunjukkan sesuatu, katamu. lalu kau ceritakan tentang iblis di bawah lensa mikroskop. konon, itulah wajah nenek moyang kita yang sesungguhnya. foto merekalah yang kita cium baunya setiap pagi sebab itulah satu-satunya cara mereka menjenguk kita dari tempat menginap semalam: serpih serat batuan. lalu dari balik sarungmu kau tunjukkan pena rahasia, dengan apa kau menulis puisi. sebab kalam harus dituliskan, katamu, agar tak lari sembunyi. di serat batu.

Reply