Di Sol Sepatu

bayangan tubuh ini suatu saat akan memendek, menyusut tersedot vakum di sol sepatu. itulah mengapa kau ajari anak-anak bergegas, mendahului matahari, agar tak sesat dihisap sang dewa Kala. semua juga tahu, dewa Kala hanya suka buah kelapa gading muda di ladang remaja dara yang tumbuh sebelum waktunya. lalu ia akan mencurinya dari dada mereka saat malam menjelang. itulah mengapa kau ajari anak-anak bergegas, menyambut rembulan sabit di halaman, guna memangkas janggut sang Kala yang kini dikepang rasta. di redup bulan secuil semacam itu, bayangan seperti hantu, bersijingkat menebar nafsu, keluar dari sol sepatu. kau tak pernah tahu, berapa ribu bayangan mampu diserap sol sepatumu. berapa ribu huruf, berapa ribu spasi, berapa ribu puisi.

percayalah, bayangan tubuh ini akan menyusut suatu saat, memendek hingga lenyap terhisap vakum di sol sepatu. sol sepatumu. itulah mengapa kau ajari anak-anak bergegas, belajar menipu, agar selamat dari incaran Kala, dari kutukan bala. kau ajari anak-anak menyimpan sedekap di batas dada sembari sembunyikan doa di lipat paha. tapi siapa sangka, kau sembunyikan bayangan tubuhmu dari mata sang Kala, di sebuah vakum, di sol sepatu?

Reply