Maka Kita Terkutuk sebagai Petani

:Tulus Widjanarko

maka di lambaian kembang tebu kutukarkan kartu pos dari tiap-tiap kota dengan aroma lembab tanah negerimu, negeri yang dikutuk oleh dada para ibu. sebagai hikayat tak habis dibacakan sejak kelahiran kita: dongeng-dongeng tersangkut di rasi bintang bajak. meluku bongkah kemarau, menugal ladang-ladang kering terbakar logika kaum lelaki, maka kita terkutuk sebagai petani. sementara dongengan sayup-sayup terdengar di ambang lelap, kau ingat, kisah-kisah ini terasa begitu tua padahal di langit kamar masih tertempel gambar-gambarnya. sedangkan ibu tak lagi sempat membacakan cerita.

maka di lambaian apa lagi mesti kau teliti remah-remah genting rumah yang hempas oleh air mata? sedangkan di langit, seperti pernah kaulihat dalam mimpi-mimpimu, anak-anak sibuk menelisik puing-puing mencari tawa yang hilang. sedangkan di dangau yang kutunggui dengan sia-sia, masih gemar kutuliskan sajak-sajak di slumpring bambu, mencandu gemeretaknya, memunguti setiap senyum samar-samar.

di sini, di kota-kota yang rabun, batang padi tak merunduk lagi. rebah di jalanan beraspal, lumat oleh kata-kata.

Reply