85. Kata-kata Indah Tak Indah

PENYAIRKU, telah sekian lama kita dikurung oleh keimanan kita terhadap kata-kata ‘indah’ dalam puisi. Begitu mendalamnya kesan itu di benak kita sejak guru bahasa dan sastra di sekolah rendah mengenalkan kita pada pantun, gurindam, peribahasa, kidung, macapat, dan lain-lain bentuk tulisan sastra yang ‘indah’. Lalu begitulah, seolah keindahan kata begitu keramatnya dalam sastra puisi.

Kata-kata dalam sajak seakan wajib dipilih dari jenis yang indah-indah saja, yang merdu dibunyikan, yang halus dan ‘sastrawi’ seperti kata-kata yang dipungut dari kamus kawi, bahasa-bahasa kuna yang tak lazim disua dalam bahasa keseharian. Seolah-olah kata-kata yang bukan dari alam sastra tak layak masuk dalam puisi, seperti kata-kata dalam alam ilmu pasti, istilah komputer dan lain-lain disiplin ilmu.

Penyairku, indah tak indahnya suatu kata tergantung kepada akrab tak akrabnya kita dengan kata itu. Seperti Sutardji, juga Hasan Aspahani, pernah mengingatkan untuk mencari nama akrab kata-kata, akrabilah kata-kata dari alam dan disiplin ilmu mana pun, sehingga kau pun akan rindu menghadirkan mereka dalam sajak-sajakmu. Indah tak indah pun menjadi tak begitu penting. Lagi pula, apatah yang lebih indah dari sebuah keakraban?

Reply