86. Terlalu Memuja Puisi

KADANG, begitu cintanya kau kepada puisi sehingga ia kau puja sedemikian khusyuk, sedemikian suntuk seolah tak ada kehidupan lain di luaran lingkupnya. Setiap kali kau ingkari saat itu pula kau menderita rindu dendam yang parah. Bahkan tak jarang kau sua penyair yang begitu mengeramatkan puisi seolah agama atau bahkan sebagai Tuhan. Begitulah, puisi serupa candu yang menggerogoti tubuh kesadaranmu hingga kau pun takluk pada sihirnya.

Maka engkau telah kalah. Yaitu saat kesadaranmu lenyap ditelan majnun puisi. Seperti penduduk di desa lereng pegunungan yang kesurupan oleh tembang shalawat nabi. Majnun oleh cinta. Sebegitu gilakah daya sihir puisi?

Ah, Penyairku, aku memilih memperlakukan puisi secukupnya saja. Kuakui, aku memuja puisi sebagai ibadah ketuhananku, tapi secukupnya saja. Aku memeluk puisi sebagai agamaku secara kafah, tapi secukupnya saja. Karena aku tak ingin silau cahaya itu membutakan kesadaranku. Bukankah puisi justru mencatat dan membasuh kesadaran? Ah, Penyairku, andai pilihanku ini salah, biarlah Sang Sajak pula yang akan menunjukkan arah. Tak?

5 Replies

  1. Sigit Raharjo Reply

    Puisi adalah do’a meski kadang memaki, puisi adalah ibadah bagi kesadaran membungkus rapi sebuah harapan… tidak lebih! Puisi harus berjiwa bukan sebaliknya.

  2. hans Reply

    cih kuno banget dech…!!!!

  3. kevin Reply

    Yaaa!!!! Setoejoe!!!!!

  4. udin Reply

    sepakat, biarlah sajak yang menunjukkan arah. Jangan beri tempat penyair untuk lebih banyak berbicara di luar teksnya. Haram!

  5. difa Reply

    puisi itu lahir dari jiwa yang suci maka wajar bila kita memujanya menganggapnya hidup dan merasakan getarannya yang sering dijelmakan

Reply