Di Pengungsian

di kerontang sajak kau sejenak sembunyi dari segala musim yang rasau silih berganti dan pengembaraanmu yang jalang demikian kubang dalam lumpur getah dan kabut syair para kawi. kadang kau berhasil menipu tatapan mata puisi dengan menyelinap di gemantung akar angin, menyampirkan sarung tenunmu di seikat jerami kering atau mengelupas kulit wajahmu hingga serupa topeng pendongeng keliling. kau yang mengaku sebagai wiku masa dahulu, enggan merengkuh kesempurnaan kalam yang dihembuskan angin barat, maka di rimba kata-kata engkau ungsi dari kisah-kisah suci para wali dan kau biarkan lidahmu terbang bersayap lazuardi hinggap di relung puisi yang kau pilih sebagai candi. kini, di pertapaan Buddha yang tertolak hitungan masa, persendianmu memfosil sedangkan kau tak kuasa menolak lingga-lingga jahil yang menodai ornamen teratai di gigir belikmu, padma di mana kausimpan satu pupuh syair purba tentang penciptaan dan kesia-siaan. entah siapa nyalakan misbah malam ini, sedang minyak jarak telah pupus hitam kilaunya membakar sumbu semalam lalu. katakanlah, mumpung mata sajak masih aram oleh sisa zikir masa silam, ke mana hendak kaulabuhkan keranda kosong ini saat ketinggian lidah memenggal lehermu fajar nanti?

Reply