Di Suatu Requiem

satu-satu langkah sepatu. mars bunyinya, seiring ayun keranda di mural gua. kemarin, setiap kenangan adalah veda. baru saja, sebuah penanda dipahatkan di prasasti lingga, kemaluan yang dibangga-bangga. satu-satu langkah sepatu. dan wajah yang tak terlihat, hanya kelopak mata nyaris mingkup, menutup dalam hening telakup. kubur batu, sarkofagus dalam sebuah mimpi itu, menunggu dalam kabut di rimba pinus sebuah negeri. sementara rinding bayang bulan mengintai, mencuri hawa yang tersisa seusai pemakaman. hingga tingkap kubur terkunci oleh cincin warna emas. hingga lonceng gereja membeku oleh cekau subuh. dan minaret-minaret masjid runtuh oleh banjir bah. satu-satu langkah sepatu. dalam langkah mars yang jarang, gaungnya kian lengang. di suatu requiem, adakah doa yang bebas dari darah manusia tersisa: untuk dipanjatkan?

Reply