‘Ngeng’ dan Proses Kreatif Seni

Di sebuah jurnal seni pertunjukan yang terbit di Yogyakarta (Maryanto, Gunawan, ‘Berkunjung ke Kaki Gunung’, jurnal Lebur, edisi 4 Januari 2006) tak sengaja saya temukan sebuah laporan wawancara dengan seorang pelaku seni di komunitas Padepokan Tjipta Boedaja Tutup Ngisor, sebuah komunitas seni budaya berbasis seni tari dan wayang orang. Dalam tulisan itu ada dikutip ‘ajaran’ mendiang Romo Yoso, salah satu leluhur Tutup Ngisor yang amat dihormati tidak hanya oleh warga dusun tersebut namun juga oleh masyarakat kebudayaan Jawa secara luas. Warga Tutup Ngisor sendiri menganggap sesepuh tersebut bukan hanya tetua kebudayaan tetapi juga tetua spiritual yang ajarannya dianggap sebagai tuntunan laku hidup. Petuah yang dikutip tersebut kurang lebih berbunyi “urip iku aja pisan-pisan ninggalke seni”, hidup itu jangan pernah sekali pun meninggalkan seni.

Petuah yang pada hemat saya cukup keramat ini menyarankan sikap hidup yang menjunjung tinggi kesenian sebagai bagian tak terpisahkan dari tata kehidupan sehari-hari seperti halnya tata bercocok-tanam atau beternak. Seni tidak dipandang lebih tinggi atau lebih rendah daripada kerja bertani, memasak, atau kerja keseharian lainnya. Justru dari perannya yang tak dianggap lebih tinggi dari kegiatan sehari-hari ini menunjukkan bahwa kerja berkesenian itu telah begitu menyatu, tak hanya melekat tetapi telah merasam dengan denyut kehidupan tiap-tiap warganya. Seni sudah menjadi internal, tak lagi dipandang sebagai entitas di luar perikehidupan sehari-hari. Ia menghuni ruang interior sekaligus eksterior, menjadi atmosfer yang melingkupi dan menafasi setiap unsur kehidupan masyarakatnya.

Dalam pemahaman serupa itu, hidup tidak semata-mata dipandang sebagai kerja survival semata. Bahkan saat mencari nafkah, saat beristirahat, saat berniaga, memasak, merokok, dan segala macam kegiatan, seni menjadi ruh yang mengilhami setiap tindak. Hidup dipahami sebagai sebuah konteks waktu yang diibaratkan sebagai peristirahatan sejenak sekedar minum seteguk dari perjalanan yang jauh, sebuah jeda “mampir ngombe”, mampir minum. Menyadari hal ini, muncul sikap menghargai hidup sebagai sebuah istirahat sebentar, mengumpulkan tenaga dan kesegaran sebaik-baiknya, sebelum melanjutkan perjalanan jauh kembali. Dan rehat itu dimaknai dengan upaya-upaya pemuliaan kemanusiaan para pelaku kehidupan itu sendiri.

Kesenian menyarankan sebuah kegiatan memperhalus budi pekerti, mengasah rasa dan daya cipta sebagaimana diajarkan oleh Tuhan Yang Mahakuasa dengan segala gelaran ciptaan-Nya di seantero semesta ini. Kesenian merupakan upaya menala rasa-cipta pelakunya untuk menggapai keselarasan antara gerak kosmos dengan gerak hati. Resonansi makrokosmos dengan yang mikro, semesta raya dengan kalbu manusia. Momentum tercapainya keselarasan ini mungkin yang oleh sebagian besar seniman tradisi Jawa disebut sebagai ‘ngeng’. Kata ‘ngeng’ sendiri tidak dapat diterjemahkan karena ia tidak memiliki makna harfiah. ‘Ngeng’ dipakai untuk menggambarkan sebuah suasana hati yang kosong sekaligus penuh, hening sekaligus riuh oleh gagasan, diam namun penuh daya gerak cipta. Beberapa memadankannya dengan ‘ilham’ atau ‘momen inspiratif’ meski istilah-istilah ini belum mampu menampung keseluruhan maksud yang dikandung oleh istilah ‘ngeng’ tersebut. Mungkin ini semacam ‘taksu’ dalam tradisi Bali, semacam kondisi ‘tuned in’ pada frekuensi kreativitas murni di mana daya kreativitas yang sadar dan subsadar, akal dan budi, rasio dan rasa, sudah tidak dapat dipilahkan lagi. Dualisme melebur sedemikian rupa, sehingga gerak tubuh, gerak hati, dan daya gaib kosmik berkolaborasi secara padu dan harmonis.

Terbayang, proses kreatif yang begitu holistik akan mengasah rasa murni kemanusiaan kita sehingga menjadi cermin yang jernih, antena yang peka untuk menangkap isyarat semesta, atau dalam Sang Alkemis disebut Coelho sebagai ‘bahasa buana’. Boleh jadi saya kurang tepat menggambarkan ‘ngeng’, suasana batin kreatif tersebut, tetapi saya yakin mereka yang intens melakoni kerja berkesenian apa pun (termasuk seni sastra) pernah mengalami momentum semacam itu, terutama mereka yang meyakini kinerja seni sebagai kesatuan gerak pikir, gerak rasa dan hati. Tampaknya, bagi komunitas budaya di dusun Tutup Ngisor tersebut, seni lebih dipahami sebagai kerja ruhani ketimbang ketrampilan teknik semata. Konon untuk pementasan-pementasan yang sakral pada tanggal-tanggal tertentu tidak boleh latihan terlebih dahulu. Pada hemat saya, model berkesenian seperti ini sudah tidak lagi memedulikan dikotomi akal sadar dan intuisi, gerak rasa dan gerak tubuh, dan lain-lain. Semua elemen baik yang tangible (wadag-kasat mata) pun yang intangible (halus-tan kasat mata) melebur lingkup-melingkupi, sebagaimana dilambangkan dalam simbol lingkaran yin-yang dalam tradisi Tao, dalam satu kesatuan orkestra gerak kreatif. Produk seni entah itu wayang orang, musik, puisi, seni rupa, pun pada akhirnya terangkat ke aras spiritual di mana ukuran-ukuran estetika material menjadi gugur.

Mungkin saya terlalu jauh berkhayal, tetapi visi berkesenian a la komunitas Tjipta Boedaja Tutup Ngisor yang ditanamkan oleh Romo Yoso dan para leluhur mereka terdahulu itu terasa begitu sejuk di padang gagasan saya pribadi. Sebuah cara berkesenian yang tampaknya cenderung mistis, namun bagi saya tampak sebaliknya. Laku seni justru tidak lagi tampak eksklusif yang hanya boleh dan mampu dikerjakan oleh sekelompok orang yang seolah-olah membentuk kasta tersendiri, melainkan telah menjadi bagian nafas hidup sehari-hari dan dikerjakan secara komunal, meski di sana ada sosok yang menjadi pusat orientasi, tokoh panutan spiritual sebagai generatornya. Kehidupan sendiri kemudian menjadi sebuah kerja seni yang kompleks namun kompleksitas itu justru dapat melebur dalam satu keselarasan gerak. Bukankah keselarasan semacam inilah yang mencoba diajarkan oleh kitab suci alam semesta dalam menjalankan hukum-hukumnya?

Dengan sendirinya apresiasi terhadap kesenian pun menjadi apresiasi terhadap hidup itu sendiri. Dari situlah kemudian toleransi tumbuh secara alami, tidak dibuat-buat apalagi dipaksakan. Universalitas yang tidak perlu lagi diformulasikan karena semua telah bergerak dalam keselarasan hakiki, dalam kesadaran diri sebagai makhluk warga alam semesta.


Kesenian menyarankan sebuah kegiatan memperhalus budi pekerti, mengasah rasa dan daya cipta sebagaimana diajarkan oleh Tuhan Yang Mahakuasa dengan segala gelaran ciptaan-Nya di seantero semesta ini. Kesenian merupakan upaya menala rasa-cipta pelakunya untuk menggapai keselarasan antara gerak kosmos dengan gerak hati. Resonansi makrokosmos dengan yang mikro, semesta raya dengan kalbu manusia. Momentum tercapainya keselarasan ini mungkin yang oleh sebagian besar seniman tradisi Jawa disebut sebagai ‘ngeng’. Kata ‘ngeng’ sendiri tidak dapat diterjemahkan karena ia tidak memiliki makna harfiah. ‘Ngeng’ dipakai untuk menggambarkan sebuah suasana hati yang kosong sekaligus penuh, hening sekaligus riuh oleh gagasan, diam namun penuh daya gerak cipta. Beberapa memadankannya dengan ‘ilham’ atau ‘momen inspiratif’ meski istilah-istilah ini belum mampu menampung keseluruhan maksud yang dikandung oleh istilah ‘ngeng’ tersebut. Mungkin ini semacam ‘taksu’ dalam tradisi Bali, semacam kondisi ‘tuned in’ pada frekuensi kreativitas murni di mana daya kreativitas yang sadar dan subsadar, akal dan budi, rasio dan rasa, sudah tidak dapat dipilahkan lagi. Dualisme melebur sedemikian rupa, sehingga gerak tubuh, gerak hati, dan daya gaib kosmik berkolaborasi secara padu dan harmonis.

Reply