91. Sajak-sajak Tunagramatika

TAK jarang kita menjumpai sajak-sajak yang menyimpang dari aturan-aturan tatabahasa. Beberapa pelanggaran gramatika memang cukup longgar dimungkinkan di dalam penulisan puisi maupun karya sastra yang lain, semisal dengan sengaja menuliskan frasa atau gabungan dua kata atau lebih menjadi satu kata: cahayabiru, rumahtepisungai, rembulanmalam, dan sejenisnya dengan alasan yang khusus diketahui oleh si penyair. Licentia Poetica, kelonggaran sastrawan (poetica di situ tidak hanya merujuk pada puisi) untuk “menyalahi” kaidah bahasa itu, sering dijadikan alasan pembenar saja atas kecerobohan berbahasa.

Kecerobohan yang paling sering menjangkiti sastrawan kita adalah absennya pengetahuan (atau kepedulian?) tentang penulisan “di” baik sebagai kata depan atau sebagai awalan. Ini salah satu contoh saja yang tampak kecil namun amat mengganggu seperti kutil. Masih ada kesalahan-kesalahan yang lain, yang bukannya disengaja karena lisensi puitik melainkan karena ketidaktahuan sastrawan tersebut akan kaidah bahasa Indonesia yang benar. Terlepas dari kerja Dewan Bahasa yang tertatih-tatih dan tak jarang menghasilkan pembakuan-pembakuan bahasa yang justru menjadi terasa asing bagi pengguna bahasa Indonesia, rasanya hal-hal prinsip semacam kata depan atau awalan “di” itu semestinya sudah harus bersenyawa dengan indra gramatika seorang sastrawan.

Jika tetanggamu menempelkan plakat bertuliskan “DI JUAL” di jendela mobilnya, masih dapatlah dimaklumi. Tetapi kalau seorang penyair menulis “dimatamu” atau “ditepian danau”, bagaimana pula?

3 Replies

  1. ureh Reply

    setuju, Om. Tapi… terkadang ada juga yang menganggap kesalahan ketik (ataupun kalo mau dianggap absen pengetahuan [tata] bahasa) sebagai sesuatu yang nggak membebaninya untuk terus menulis + nggak penting, meski banyak kritik atas tulisannya. tiap orang punya waktu, topik & kesempatan untuk jadi "kepala batu" kan? 😀

Reply