Di Lengkung Alis Mata(mu) Ada Puisi Bagimu

Untuk kumpulan sajak Johannes Gie alias Yo yang bermerek Di Lengkung Alis Matamu ini, ijinkan saya menanggapinya bukan sebagai dokter, apalagi dokter spesialis kandungan ataupun dokter bedah. Jika kumpulan puisi ini adalah seorang pesakit, biarlah saya menempatkan diri saya sebagai seorang kerabat yang menjenguk, alih-alih dokter yang memeriksa. Jika kumpulan puisi ini adalah seorang pesakitan, saya tak hendak berperan jaksa atau hakim yang mengurai hal-ikhwal yang memberatkan pun yang meringankan dosanya. Biarlah saya menjadi kerabat yang ikut cemas dan berdebar menunggu vonis akhir. Begitulah, sulit bagi saya menjadi dokter, apalagi ahli bedah, saat hubungan emosi saya dengan puisi begitu lekat. Pun mustahil bagi saya menjadi jaksa atau hakim yang adil dengan hubungan emosional seperti itu.

Dari sajak demi sajak di dalam buku ini saya melihat seorang lelaki yang bergulat, mencatat, berkeluh-kesah, memotret, mengenang. Khas penyair “aliran dalam” yang lebih suka merenung, bermenung. Penyair yang diam, yang sunyi, yang memendam semua residu kehidupannya dari hari ke hari. Ia mengumpulkan serpih-serpihan emosi, memeramnya sejenak sekedar cukup fermentasi agar aroma alkohol mulai keluar, lalu menikmatinya diam-diam, menyetubuhinya demikian mesra hingga beranak-pinak sajak. Sebagai penyair “introvert” Yo tampaknya bukan termasuk jenis yang sabar berlama-lama memeram singkong puisinya. Jeda yang dia ambil sekedar cukup memberinya waktu menghela nafas. Maka, dari satu dua sajaknya kita bisa merasakan tapai singkong yang masih agak keras serta kurang wangi alkoholnya. Semacam catatan harian yang harus segera dituliskan agar tidak terlupa.

Di sana-sini, kita akan mudah menjumpai air mata yang mengering, atau isak tangis, juga haru yang ditahan (karena ia laki-laki?). Paling tidak sang penyair mengakui (dalam hati) di hadapan wanitanya, “…lelaki juga punya masalah/ kadang dipendam karena pongah/ menangis dianggap pengecut/ terisak apalagi, dianggap takut” sehingga akhirnya “semua terpendam/ dalam diam, seperti malam” (Wanita/3). Dalam diam pula, penyair kita ini belajar mendengar suara-suara kehidupan yang sering kali terabaikan, berbincang dengan benda-benda sehingga ia mampu mendengar “berisik puntung rokok berbicara” saat sang penyair “diam tak berkata” dan hatinya “sunyi tak bertepi” (Asbak). Bukankah diam dan sunyi yang tak bertepi inilah tempat bermukim ruh? Di kediaman sunyi itulah penyair kita rupanya menjumpa ruh puisi. Berbincang dengan kenangan masa kecil, dengan sosok-sosok tercinta yang tinggal di relung hatinya sendiri, bahkan mengirim telepati cinta kepada dia yang tak terengkuh.

Begitulah saya menikmati sajak-sajak dalam buku ini. Kata-kata, wadag puisi menjadi tidak terlalu penting bagi saya. Bahkan kata-kata yang tak jarang berserakan terlalu ramai, menjadi tidak terlalu mengganggu saat saya mulai meresap aura emosi, getar haru, serta apa saja yang tak terkata. Tak sulit mendengar isak sajak-sajak Yo, seperti dicatatnya dalam sajak dua larik berikut ini:

PUISI BAGIMU

sajak-sajakku tergeletak di atas meja
terisak tanpa kata

Cinta, bagi sang penyair, adalah singkong atau beras bahan tapai atau arak. Aromanya menyebar mendominasi buku ini, menguar lembut tidak menyengat. Sajak-sajak cinta Yo adalah komposisi bertempo lembut-lambat, agak mellow tapi belum sampai pada kadar cengeng. Meski ada juga ia mencoba “tidak puitis” dengan mengimpor jargon-jargon komputer dalam“Microsoft Kangen”, nyatanya Bill Gates pun tak mampu mengobati rasa kangen si penyair. Satu-satunya sajak yang menurut saya mengganggu kenikmatan hidangan dalam buku ini adalah justru yang berjudul “Sambil Menikmati”, yang tiba-tiba merenggut sosok Yo-penyair dari benak saya lalu memunculkan sosok Yo yang lain: seorang pewarta yang menggerutu.

Sebagai penyair, Yo termasuk pemula, baru mula-mula berpuisi, seperti juga saya. Ibarat pendaki, baru sampai lereng dari gunung puisi yang tak terlihat puncaknya. Wajarlah jika sesekali berlama-lama menikmati kembang liar di kiri-kanan jalan setapak yang didaki, atau sesekali sesat terjebak kabut hingga hilang pandang. Dalam situasi seperti itu Yo terbukti tak gampang menyerah. Sebagai pemula Yo termasuk nekat merasuk puisi (atau kerasukan puisi?). Sepertinya ia telah melihat wajah puisi dan begitu terpesona karenanya. Mati-matian berusaha menaklukkan puisi, sekaligus tak bedaya oleh teluhnya. Seperti pelaut, ia menemukan wajah puisi itu serupa dermaga tempat berangkat sekaligus tempat pulang, tempat menyandarkan harap “…usai perjalanan yang tertatih” (Di Lengkung Alis Matamu). Sepertinya, di lengkung alis puisi penyair Johannes “Gie” Sugianto menemukan “dermaga hati” tempat ia “melabuhkan rindu”. Bukankah pelaut, sejauh apapun berlayar, selalu pulang ke dermaga di mana ia tambatkan rindunya?


Dari sajak demi sajak di dalam buku ini saya melihat seorang lelaki yang bergulat, mencatat, berkeluh-kesah, memotret, mengenang. Khas penyair “aliran dalam” yang lebih suka merenung, bermenung. Penyair yang diam, yang sunyi, yang memendam semua residu kehidupannya dari hari ke hari. Ia mengumpulkan serpih-serpihan emosi, memeramnya sejenak sekedar cukup fermentasi agar aroma alkohol mulai keluar, lalu menikmatinya diam-diam, menyetubuhinya demikian mesra hingga beranak-pinak sajak.

1 Reply

  1. riza Reply

    menurut saya puisi ini sangaaaaaaaaaaaaaaat tidak bagus…….

Reply