[Tadarus Puisi # 011] Tersebab Apa Sajak Terbentuk pada Sebuah Pola

BANYAK hal bisa dikaji pada sajak penyair asal Yogyakarta TS Pinang “Tersebab Apa”. Sajak ini bisa ditelururi dari bagaimana penyair memadukan beberapa kelompok kata dari bait ke bait sehingga membangun sebuah imaji yang memancing makna yang kaya. Ia bisa dibentang sebagai sebuah hutan penuh hewan buruan: dan kita adalah pemburu yang bertugas menangkap sebanyak-banyak hewan di hutan itu, dengan berbagai siasat dan taktik perburuan.

SAYA ingin meletakkan sajak bagus ini di rehal tadarus kali ini untuk melihat bagaimana sebuah sajak dibangun dari bait ke bait dengan sebuah pola yang sama. Ada risiko besar pada jurus sajak yang begini ini, yaitu ia bisa jatuh membosankan jika tidak dikembangkan dengan cermat dari bait ke bait. Kebosanan itulah yang harus dibunuh benihnya dari bait ke bait. Keingintahuan dan ketertarikan harus terus menerus dipancing. Pembaca harus terus-menerus dipikat sebelum ditawan di akhir sajak.

SUTARDJI Calzoum Bachri memakai pemolaan ini pada beberapa sajaknya. Sajak “Mari” salah satunya. Pola bukan sekadar repetisi. Pola adalah semacam formasi imaji yang diisi dengan kata-kata yang berbeda dari bait ke bait dengan demikian ia juga menimbulkan rangsang makna yang berbeda. TS Pinang tidak ingin bercerita dalam sajak ini. Pola yang ia bikin bagi saya seakan mengantar saya sejenjang sejenjang menaiki puncak sajak yang ia persiapkan di bait terakhir. Tiap anak tangga adalah puncak juga yang mesti saya capai dan saya amati dengan cermat. Pendakian yang nikmat.

DAN puncak yang paling puncak pada sajak ini adalah bait terakhir: tersebab apa/kitab menulis hujan dalam koma/menghitung tasbih/di sajadah dusta/di bukit batu dan gunung kata:/saatnya laut tercangkul lingga. Saya tak pernah yakin dengan kesimpulan yang saya buat atas bait ini dan dengan kaitannya dengan sajak-sajak sebelumnya. Tapi saya tak perlu kepastian itu. Sama sekali tidak perlu. Tiap kesimpulan selalu diragukan oleh godaan kesimpulan lain. Begitulah terus menerus. Mungkin keragu-raguan itulah yang hendak disebutkan oleh TS Pinang? Mungkin. Mungkinkah TS Pinang hendak mengingatkan kesalihan palsu yang banyak dilakoni oleh kita? Kita yang sibuk menghitung tasbih, di sajadah yang cuma dusta, sujud yang pura-pura? Mungkin. Jika pada tiga belas bait sebelumnya kata “tersebab” selalu dikuti oleh kata yang pasti, pada bait puncak itu apa yang menjadi sebab itu dipertanyanan: “tersebab apa”.

SOAL “hamil anggur” di bait pertama pun telah pula menawarkan emosi kesal dalam seluruh jiwa sajak. Hamil anggur adalah kehamilan palsu. Kehamilan gagal. Kehamilan yang harus digugurkan. Alih-alih memerankan tugas suci rahim, hamil anggur justru mengotori. Rahim harus dibersihkan tuntas dari butir-butiran bak tandan anggur yang menyaru janin di rahim, bila ingin tetap berfungsi sebagai rahim. Ini pemeragaan diksi yang hebat dari TS Pinang.

TS Pinang
Tersebab Apa*

/1/
tersebab laut
batu hamil anggur
menghitung kalender
di dinding hujan:
saatnya merebus bubur

/2/
tersebab kata
patungpasir pun gugur
menghitung racau
di atap kemarau:
saatnya menabur galau

/3/
tersebab batu
sungai lupa lumpur
menghitung musim
di kerut wajah:
saatnya menggaru sawah

/4/
tersebab bukit
pohon pingsan di ladang
mengitung lidi
di daun enau:
saatnya menanam surau

/5/
tersebab cangkul
sawah menulis siput
menghitung cangkang
di gigir pagi:
saatnya menganyam tali

/6/
tersebab gunung
sungai menumbak laut
menghitung alir
di bulir pasir:
saatnya membaca tafsir

/7/
tersebab kitab
padi menyepi di dapur
menghitung malu
di tungku beku:
saatnya mengubur tinju

/8/
tersebab dusta
hati larikan diri
menghitung senyum
di televisi:
saatnya melarik puisi

/9/
tersebab lingga
mata menggali danau
menghitung garba yang hangus
di sula para lelaki:
saatnya membeli peci

/10/
tersebab hujan
malam menjerang kopi
menghitung getar sepi
di gentar hati:
saatnya menjahit luka

/11
tersebab koma
wajah memar oleh tanya
menghitung tembok retak
di mimbar khutbah:
saatnya membalut candi

/12/
tersebab tasbih
embun mengaji doa
menghitung daun dan ranting
di masjid berlantai marmar:
saatnya menenggak memar

/13/
tersebab nama
tuhan memahat arca
menghitung sebab
di biji jagung:
saatnya menumbuk ingat

/14/
tersebab apa
kitab menulis hujan dalam koma
menghitung tasbih di sajadah dusta
di bukit batu dan gunung kata:
saatnya laut tercangkul lingga

* nomor-nomor bait dari HAH


BANYAK hal bisa dikaji pada sajak penyair asal Yogyakarta TS Pinang “Tersebab Apa”. Sajak ini bisa ditelururi dari bagaimana penyair memadukan beberapa kelompok kata dari bait ke bait sehingga membangun sebuah imaji yang memancing makna yang kaya. Ia bisa dibentang sebagai sebuah hutan penuh hewan buruan: dan kita adalah pemburu yang bertugas menangkap sebanyak-banyak hewan di hutan itu, dengan berbagai siasat dan taktik perburuan.

Reply