93. F A T I G U E

PERNAHKAH kau begitu terserap ke dalam puisi sehingga kau kerahkan seluruh sumber dayamu demi menemukan puisi milikmu, mencari pengucapan baru, bermain-main dengan bentuk baru, atau apapun upaya-upaya yang kau anggap penting bagi kemajuan olah puisimu. Beratus bahkan beribu sajak telah kau tulis. Bahkan ada juga yang berambisi menulis sejuta puisi. Begitulah, seakan kalau bisa kau ingin menggunakan seluruh energi di alam semesta untuk membakar tanah liat sajakmu menjadi porselen puisi.

Lalu tiba-tiba kau terkulai. Pingsan mental. Otak mogok kerja. Kata-kata mendadak lumpuh dan sajak-sajakmu pun tak lagi bertenaga. Keletihan luar biasa seakan telah mengambil seluruh jiwamu. Habis. Seekor semut mungkin terasa jauh lebih perkasa dibandingkan dengan dirimu yang kehabisan daya. Singkat kata, kau telah mati kutu, atau mati kata, atau sebut apa sajalah.

Penyairku, dalam kelelahan semacam itu, memaksakan diri hanya akan membuatmu semakin putus asa. Istirahatlah untuk menemukan kesegaranmu kembali. Menemukan kegairahan mata kanak-kanakmu kembali. Mungkin dengan mempelajari hal-hal baru, belajar karate, main catur, membaca jurnal ilmiah, mengamati astronomi, melukis, atau apa saja selain menulis puisi. Sampai kau temukan kerinduanmu kembali, pulang kepada puisi. Jika kerinduan itu tidak kunjung datang, relakanlah. Paling tidak kau telah sempat mengenal, mengakrabi puisi. Dan itu, percayalah, sebuah pengalaman yang tak akan pernah kau lupakan.

2 Replies

  1. Saya Reply

    Semoga kerinduan segera kembali. Karena Puisi selalu menanti…

  2. Seorang sendja Reply

    itulah kenapa,saya terkadang mencari2 susah,yang membuat saya lebih melankolis dan ‘perasa’ lagi.. =) tidak pernah memaksakan menulis ketika jiwa sedang ingin mengembara saja..

Reply