Macapat Gambang Gula

waktu menggeliat. serupa birahi ingin bertahan. abadi. sementara apa yang sedang dicatat selalu mengabur, sewarna sefia kertas foto dan gambar tua potret bunda. padahal kau tak pernah tamat belajar jadi lelaki: kelamin yang dicipta pertama kali.

sejarah mencatat puisi panjang tentang anak-anak yang memperkosa ibu sendiri, dan rahim bumi yang koyak di setiap persalinan. darah tumpah. dan pohon-pohon yang meruyak di rimbun selangkang khatulistiwa, hanya tercatat sebagai kayu bakar tanpa tungku. menguar asap semata, ilusi dapur yang menyala. padahal kau tak pernah tamat belajar menjadi lelaki: ahli mengingkar air mata sendiri.

kau ingat. setiap purnama, ibu menipu air mata dengan cahaya. setiap gerhana jelihnya merundukkan rumpun-rumpun padi. gelap gerhana menabir semua rahasia. kejahatan purba yang tak layak bagi mata anak-anak kita. lagi-lagi kau gagal mengaji suluk lelaki: mengasah mata lembingmu di rekah lesung, mendesah di sudut lumbung.

(Dewi Sri yang melahirkanmu, tak kuasa menanggung duka bayi-bayi tanpa ibu. sementara rambut hitamnya yang lebat legam dulu, kini pangkas. tersingkaplah rahasia keramat itu: kutuk Kala yang lapar sukerta.)

prasasti demi prasasti mengekalkan hikayat para lelaki. yang tegak batang tumbaknya, yang patah ujung kerisnya. dan wanita adalah kisah di kitab yang lain: panggung bayang-bayang di kelir segala peristiwa. (kau masih. mencoba percaya kisah lelaki pengibar bendera, penabuh tambur kejantanan.)

Pertiwi, nama ibu yang kekal. mengejan menahan perih kemaluan, menanggung demam atas dosa-dosanya sendiri: dusta kutukan purba lelaki durhaka, atau hilangnya batu perawan abadi.

lalu, waktu yang lelah memutar cuaca sesekali terlambat menutup jendela. angin jahat kian kuat. menebar musim teluh, membengkakkan kelaminmu, memanaskan tungku di dada para gadis. membakar kitab tentang tabiat dan kesucian.

lalu, waktu yang lelah mengayuh lautan sesekali luput membaca sekstan. arah yang menggila mengaduk nasib. tak ada lagi yang terbaca selain duka yang tiba-tiba. senja kian merah.

lelaki. angkara yang diwariskan, wabah yang merasuk mana. mencuri kemanusiaan dari tubuhmu. kau, yang tak pernah utuh menjadi lelaki: wanita adalah kendara bayangmu.

(catatan sepanjang usiamu, sejak berabad-abad silam. ribuan kali ditulis dalam hikayat para pendongeng. tiada yang tetap sama dalam ingatan masa.)

kau ingat. sungai menghanyutkan plasenta dari kelahiranmu yang pertama. kau mengingatnya dari kabar para peramal. buta aksara, kau terbata membaca murka bintang-gemintang. seperti tertulis di telapak tangan: roman yang makin tebal oleh zaman.

lelaki adalah misteri, wanita adalah sabda yang dituahkan oleh gerhana. lalu merebak di bilah-bilah gambang , dikidungkan setiap malam mengambang, saat para ibu menyanyikan petuah: sihir yang memantrai kutuk suci di dahi para bayi.

tetapi, dini hari pathet berubah, gending berganti. malam mencuri para ibu, bayi-bayi lelap tanpa hangat payudara. dan kutuk purba itu tersentak, menggeliat, melolong sepanjang relung rindu. memanggil-manggil arwah bumi: ibu asali, padanya segala tulah kembali.

suatu masa. semua kapal menggulung layar, labuh di dermaga ini. jangkar diturunkan, zakar dikibarkan. para nahkoda pulang mencari ibu. para perawi tak sabar mencatatkan puisi di dada para dara yang rindu, menunggu kisah dari negeri-negeri jauh, beribu-ribu cuaca jaraknya. pagi menghangat oleh niaga, malam berjingkat dalam sanggama. menunggu bedug subuh. membasuh aroma peluh.

lalu, bandar yang gaduh itu kembali langut, tersabda rindu layar-layar jung di ujung laut. lelaki menatap di dasar kenangan. perempuan menghitung purnama dalam kandungan.

__________________________________

KETERANGAN:

  1. Macapat: bentuk tembang Jawa yang dinyanyikan dalam empat ketukan. Dikenal sebelas macam tembang macapat yang memiliki aturan persajakan, lagu dan tema masing-masing: Mijil, Sinom, Dhandhanggula, Kinanthi, Asmarandana, Durma, Pangkur, Maskumambang, Pocung, Gambuh dan Megatruh. Judul sajak ini digelincirkan dari nama salah satu tembang macapat, Dhandhanggula.
  2. Sefia (sephia, Ing.): warna abu-abu kecoklatan akibat penuaan pada kertas foto hitam-putih. Karakter yang khas dari warna ini sering dipakai sebagai efek visual dalam seni fotografi untuk menciptakan kesan foto tua.
  3. Jelih (Jawa): lolong, jerit, rintih karena kedukaan yang dalam.
  4. Sukerta: golongan manusia yang karena kelahirannya membawa ‘kesialan’ dan ditetapkan menjadi mangsa dewa raksasa Kala. Dalam kepercayaan Jawa orang-orang yang menyandang sukerta ini harus diruwat agar selamat dari incaran Sang Kala.
  5. Kelir: layar putih dalam pertunjukan wayang kulit.
  6. Sekstan (sextant, Ing.): semacam kompas navigasi penunjuk garis lintang dan bujur.
  7. Mana: badan halus, ruh, energi dalam makhluk hidup atau benda-benda.
  8. Gambang: salah satu instrumen gamelan Jawa.
  9. Pathet: pola musik dalam gamelan Jawa.

Reply