Macapat Batu Kambang

kenang mengeras membatu
tapi apung di limbang matamu

usap lembut tangan angin
rangkum segala rindu dan ingin

o biyung, ibu segala ibu
tebarlah mantramu bersama debu

o kidung, tembang segala lagu
nyanyikan doa penawar ragu

sebab setiap malam wangi kemuning
membeku embun dalam hening

lama tikar sajadah kuingkar
sebab kuhindar doa yang hingar

bila zikir adalah jantung yang degup
maka nafas adalah doa yang hidup

o gusti, tuhan segala tuan
telah sadap segala syair dan diwan

anak yang tundung dari bumi sendiri
rindu ziarah kubur ari-ari

dari muasal gurindam dan sloka
kutoreh getah dedam dan duka

sebab hakikat rindu ciuman ibu
terapung di kambang batu

o angin, nafas segala alam
di laut mana kapal cinta tenggelam?

demikian batu yang apung mengambang
tersurat di kuntum tembang

karena batu yang menyelam
hanya membeku luka yang silam

dan dasar kali menjadi gedung pustaka
menghimpun buku-buku yang tenggelam oleh luka

o bunda, o bunda
berhentilah berdoa

sebab bah air matamu yang baka
telah menelan tujuh surga

sedang syair di detak jantung
adalah amin yang bergaung

bunga o bunga, kembang o kembang
amsal silsilah tua, o batu kambang

o biyung, ibu segala ibu
tebarlah kutukmu bersama debu

o tembang, lagu segala kidung
nyanyikan mantra penjinak gunung

(sementara rembulan kian tinggi
batu kambang pun hanyut, pergi)

_____________________________
KETERANGAN

  1. Macapat: bentuk tembang Jawa yang dinyanyikan dalam empat ketukan. Dikenal sebelas macam tembang macapat yang memiliki aturan persajakan, lagu dan tema masing-masing: Pocung, Gambuh, Pangkur, Sinom, Dandang Gula, Kinanthi, Megatruh, Asmarandana, Maskumambang, Mijil dan Durma; judul sajak ini digelincirkan dari nama salah satu tembang macapat, Maskumambang
  2. Biyung: panggilan untuk Ibu (Jw.)
  3. Gusti: sebutan untuk Allah; panggilan rakyat untuk raja atau bangsawan; majikan
  4. Tundung: usir

Reply