Macapat Megatrupa

terpahat di keningmu relief itu
hikayat kita sejak kelahiran malam yang pertama
hingga ledakan bintang purba yang menciptakan siang:
muasal cahaya

cahaya memetakan rupa wajahmu
berbilang lipatan sepuluh kali,
topeng yang setiap kali berganti
dan warna yang tercipta, melukis
rasi bintang dan bunga-bunga

bunga meremang dalam rona,
tersipu oleh ayat-ayat yang disabdakan
dan saat sari telah tanak, daun tua melayang
jatuh membuka ramalan nasib
di gurat wajahnya yang jenar
dan sesaat sebelum fajar pecah
lengkaplah segala saji dan seratus dupa

dupa membubung asap mantra setinggi asa
pasrahkan seluruh luka, seluruh duka
luruhkan kerak hati, bersama aroma melati
yang tebar. seputih asap
sewangi harap

harap tumbuh serupa pohon
memohon sungai tetap mengalir
gunung tenggelam dalam renung
membuka setiap lipat, membaca sandi hakikat
pohon adalah doa yang rimbun
di setiap ranting dan helai daun
tercatat almanak sepanjang tahun

tahun menerus sepanjang arus
menderas, berkelok menggerus
membilas daki di kerah baju
menapak tanjak, membilang jarak
di tunggul-tunggul batu

batu mengekalkan setiap gelora
gairah yang mati muda, terperangkap
di relung nasib yang memfosil
seperti foto yang terbingkai abadi
lalu oleh tetesan air ribuan musim,
batu terkikis aus. tetapi ada yang selalu
menitis, setelah puas dahaga dan haus
lalu kembara berlanjut, berulang ribuan kali
ada yang pergi dan mati
ada yang terlahir kembali

kembali, pulang ke jalan yang kejam
dari rumah singgah yang tenteram
seperti waktu, hidup adalah kembara abadi
dan mati adalah stasiun diam
sebentar menanti, saat kembali pergi
dan seperti tatasurya dalam galaksi
semua yang diam dan berputar
memendam debar dalam hati

hati mengeras oleh dingin musim basah
dan nurani yang beku
sedang kemarau memanggang, membakar nasib
di relung jantung

jantung menderam di awal dan akhir kisah
memompa kapiler mencari jalan keluar
ruh yang berangkat tinggalkan
segala rupa, segala raga

raga tinggal merana
termakan renta
tercerai suka-duka
mendamba akhir

akhir kisah, rupa mengabur
kata melebur terbakar cahaya:
akhir yang semestinya

____________________
KETERANGAN:

  1. Macapat: bentuk tembang Jawa yang dinyanyikan dalam empat ketukan. Dikenal sebelas macam tembang macapat yang memiliki aturan persajakan, lagu dan tema masing-masing: Pocung, Gambuh, Pangkur, Sinom, Dandang Gula, Kinanthi, Megatruh, Asmarandana, Maskumambang, Mijil dan Durma. Judul sajak ini digelincirkan dari nama salah satu tembang macapat, Megatruh.
  2. Jenar: warna kuning; warna kunyit

Reply