Narasi Hujan Februari

aroma peppermint hujan sejak kemarin
menyeruak di rimbun semak dalam benak
seperti malam basah yang kian kingkin
dan gigil gigi geraham yang berderak

angin pusar penanda tahun rembulan
mengelupas selimut dan atap rumah
sedang air mata tersamar deras hujan
dan setiap kejutan kami terima tabah

doa-doa dinyanyikan di kuil merah
lampion dan dupa masih menyala
dan setiap kali kami tunduk menyerah
setiap kali tangis kau kirim pula

ini sajak duka, ditulis tanpa rasa
sebab luka telah mengebalkan kalbu
sedang lentera merah itu hanya sisa
perayaan musim, harap yang mengabu

Reply