Malam Indigo

malam ini langit warna indigo dan blues semakin ungu. seungu kulit umbi rambat yang kaudangir dengan ranting bambuduri. bulan telah lama tak putih lagi, dan mendung adalah kisah sehari-hari.

malam ini aku selalu salah menghitung jumlah jemari. kau seakan tak peduli, masih saja berkutat dengan puisi dan gambar-gambar geometri. mataku selalu rabun setiap kali desah blues meniup punggungku dengan nada berwarna ungu (kadang-kadang memang biru, tapi lebih sering ungu!) dan setiap kali pula harus kuturut setiap ruas jemari, kadang kuhitung tujuh, tiga puluh tiga, kadang hanya satu. mungkin aku tak pernah diajar berhitung dalam angka genap. ganjil melulu.

malam ini semakin ungu, dan langit indigo semakin layu. seperti kolibri yang terbang diam, kita bergeming seraya sibuk mengepak sayap, sekedar tak jatuh hempas. lalu kita membayang gambar yang sayup. dan malam pun berkarib dengan tengkuk leher: sama-sama remang.

Reply