105. Berhentilah Membaca Buku!

WHAT? Are you serious? Mungkin itu katamu, Penyairku. Baiklah, akan kuambil resiko ini: aku memang sedang menyesatkanmu kali ini.

Konon, buku adalah saripati pemikiran penulisnya, saringan dari apa yang mungkin diobrolkannya dalam bincang-bincang warung kopi, yang mungkin direnungkannya malam-malam, atau yang ditangkapnya lewat ilham kewahyuan –berasal bukan dari mana-mana kecuali dari Sang Keberadaan sendiri. Bila kau percaya ini, maka buku boleh jadi merupakan sumber pengetahuan. Pengetahuan penulis buku itu.

Tapi baiklah aku berterus terang pada-Mu, Penyairku. Aku sedang berusaha mencari teman sesama pemalas baca buku. Aku telah lama berhenti membaca kitab suci, sebab yang kubaca adalah tafsiran mereka yang menerjemahkannya atas nama Kebenaran. Aku telah berhenti membaca buku-buku karangan orang-orang alim sebab yang mereka tulis adalah kebenaran-kebenaran milik mereka sendiri. Marilah, Penyairku, kita bersama-sama berhenti membaca buku. Percayalah padaku, membaca buku menghabiskan waktumu sembari menjauhkanmu dari imajinasi sejati.

Marilah, Penyairku: kita melamun saja, sambil membaca runcing kerikil di telapak kaki kita, sambil membaca gatal-perih betis tersayat daun alang-alang, sambil membaca uap panas aspal jalan siang-siang, sambil membaca kepulan asap Merapi dari kepundan, sambil membaca cemas di dalam dada, sambil membaca monster hantu yang meringkus pundak kiri, sambil membaca apa saja. Selain buku!

Maka, Penyairku, aku memang sedang berupaya menyesatkanmu. Sungguh!

7 Replies

  1. dony p Reply

    ternyata saya juga tersesat persis seperti yang engkau katakan

  2. steffi Reply

    emang bener…

    buat apa membaca,,,

    kalo bisa baca pikiran orang, mendng baca pikiran orang dari pada baca buku,,,

  3. Ken Reply

    Lalu,
    Apakah nanti imajinasiku,
    akan bisa lebih sesat dari kebenarankebenaran milik mereka itu?

  4. mitra w Reply

    😛

    wah, pakde, jauh sebelum anda mencoba menyesatkan saya, ternyata saya sudah tersesat 😛

    aslunya aku ga hobby baca, tapi mau gimana lagi… wong klo nonton tv banyak acara yg nggilani… ^_^, radio acarane musik2 sing aku ra’ mudeng… lha, apa lagi klo gak baca primbon! (bwahahaha…ternyata jauh lebih ga mutu :P)

  5. Ywank Reply

    Pembaca tak harus meniru segala
    Penulis jauhkan sifat egois
    Biarlah mereka mencerna tiap remah kata
    tanpa memintanya menjadi iblis

  6. singularitashati Reply

    membaca tak berhenti hanya pada kata yang dibaca, harusnya membaca menggerakkan dan mengalirkan mengalirkan air imajinasi sendiri yang tertahan, tak harus membaca menerima seluruh kebenaran-kebenaran tafsiran penulis, tak harus begitu, proses kreatif sering terjadi ketika imajinasi dipicu oleh kesadaran yang digugah oleh aktifitas `membaca`…ehmm

  7. -ndhoel Reply

    membaca alam tanpa perantara mungkin memang lebih bermakna..

    (memberanikandiriwalaubaruketemusekali)

Reply