107. Kepenyairan Adalah Profesi, Bukan Hobi

PENYAIRKU, maaf kalau kau tersinggung dengan judul sketsaku ini. Tapi memang begitulah, sastra, termasuk puisi, adalah sebuah wilayah kerja yang serius dan sungguh-sungguh. Menjadi seorang penyair adalah sebuah profesi.

Tunggu, jangan kau protes dulu. Profesi di sini biarlah kita pahami dalam pengertiannya yang lebih luas yakni sebuah kerja yang kita geluti sehari-hari, bukan sekedar ‘kerja demi uang’ sebagaimana dipahami selama ini. Seorang penyair boleh saja bekerja di bidang lain untuk menafkahi hidupnya, tetapi seluruh kerja jiwanya adalah kerja puisi, kerja kepenyairan. Artinya, ketika mengerjakan sebuah sajak, engkau harus sungguh-sungguh.

Seorang penyair bernama Acep Zamzam Noor ada mengatakan dalam sebuah kesempatan bahwa baginya kerja kepenyairan adalah sebuah kerja amatir (dari kata amateur yang berarti pecinta). Tetapi, perlu ditegaskan, amatir di sini jauh dari pengertian ‘main-main’, pengisi waktu senggang atau ‘sambil lalu’. Saya kira Acep sejauh ini sungguh-sungguh dengan kerja puisinya, walau dalam kesungguh-sungguhannya itu berselaput humor di sana-sini yang terkesan bermain-main, terkesan playful.

Playfulness (kebermain-mainan) jauh dari kesan ‘main-main’ atau menyepelekan. Joko Pinurbo banyak menggunakan diksi yang playful, namun semua orang dapat merasakan betapa dalam dan seriusnya ‘jiwa’ sajak-sajaknya.

Penyairku, sungguh-sungguhlah dengan puisimu. Ia adalah profesimu, dunia keseharian yang harus kau geluti sepenuh tenagamu sehingga kau dapat menangis di dalamnya, tertawa, bercanda, atau diam. Gelutilah puisi secara profesional dengan kecintaan seorang amatir, seorang pecinta.

Reply