108. Ketegangan Penyair, Sajak dan Pembacanya

Penyair:
Aku tuliskan sajakku bukan tanpa perjuangan. Kupertaruhkan apa yang ada dalam diriku dan di luar diriku sedemikian rupa agar sajakku mewujud. Sajak adalah anak ruhani, katamu. Ada yang bilang, penyair ‘mati’ dalam persalinan sajaknya. Ada yang bilang, penyair masih hidup untuk mengasuh sajaknya, melindunginya dari tangan-tangan zalim. Aku bilang, penyair adalah sajaknya itu sendiri. Wahai, sajak-sajakku. Engkaulah kegaibanku yang kuluahkan dalam bahasa, dalam kata. Karena gaibku engkau ada. Karena gaibmu kutemukan kata.

Sajak:
Aku merdeka sedari mula diciptakan. Aku memilih kata-kataku sendiri. Penyair tak lebih dari seorang juru tulis yang terhipnotis oleh pesonaku. Ia menuliskan apa yang Aku ingin ia tuliskan! Ya, betapa sombongnya Aku. Begitu katamu, bukan? Ada penyair yang bangga karena kupilih ia untuk menjahitkan baju bahasa untukku. Ada penyair yang merasa ialah penciptaku. Aku tak peduli. Yang terpenting tujuanku tercapai. Menjelma dari gaib menjadi nyata, dalam ujud kata-kata. Dan, wahai pembaca, inilah Aku, cermin dari dirimu, diri penyair, diri kehidupan. Temukanlah gaibku dalam kata-katamu. Temukanlah gaib kata-katamu dalam ujud kata-kataku.

Pembaca:
Aku tak peduli pada gaib kata, atau pesona sihir penyair. Aku perkosa sajak sesuka mauku. Sebab ingin kureguk galib makna, ingin kusesap intisari bahasa. Bila tak lezat, kuludahkan ia sebab getir makna tak kuasa kutelan, kuludahi penyair sebab kurasa panasnya sihir. Kadang aku memang ada ingin bercermin, biar bagaimana kadang ada kulihat sekilas diriku terbayang dalam sajak. Tapi lebih sering bayang diriku itu bukan sosok yang ingin kulihat. Di saat aku jujur, aku bersyukur sebab sajak yang kubaca. Di saat aku ingkar, kukira tak ada salahnya aku menyalahkan sajak atas apa yang tak kusuka. Suatu saat aku bisa arif. Saat lain tak. Aku lebih sering iri pada penyair, sebab ia akrab dengan gaib kata-kata, dengan pesona sabda. Kadang iri itu menjadi pesona pula, kadang menjelma menjadi benci.

Syahdan, dalam semesta Puisi, semua menghirup nafas dari udara yang sama.

1 Reply

  1. julianto Reply

    Banyak kata tertuang dalam cinta. syair yang kuungkap dalam luasnya air menderu keluar. dalam sunyinya malam termenung ku melihat cahaya. gemerlap mngalunkan nyanyian malam. bak tersenyum bulan berbicara syair malam ini hanya untuk pemuja cinta. tak peduli sunyi, tak peduli gelap, tak peduli malam. cinta ini terasa sakit. cinta ini terasa pedih. kalau sajak yang tertuang menimbul hasrat. kalau sajak ini menimbulkan pesona. baik ku ucapkan selamt membaca.

Reply