109. Perihal Keris dan Sebilah Sajak

Sebilah keris buatan para perajin di kaki bukit Imogiri, Yogyakarta, dapat diselesaikan dalam hitungan hari, lengkap dengan sarung dan aksesorisnya. Keris semacam ini biasa dijual sebagai suvenir atau dipakai sebagai pelengkap pakaian adat. Harganya murah dan dapat diproduksi secara masal asalkan tidak diharapkan memiliki kualitas standar sebuah keris, apalagi memiliki aura magis sebagaimana layaknya sebuah benda pusaka.

Sebilah keris buatan empu (di kaki bukit Imogiri itu juga ada seorang empu keris sungguhan), lain lagi ceritanya. Besi bahan yang berkualitas baik haruslah dilebur langsung dari bijih, meski sekarang banyak pula empu yang terpaksa memakai besi bekas rel kereta atau besi plat. Besi itu dibuat semacam pita yang dilipat-lipat beberapa lapis, lalu dipipihkan lagi menjadi satu lapis pita, dilipat-lipat lagi, dipipihkan lagi, demikian seterusnya puluhan hingga ratusan kali sehingga diperoleh kepejalan bahan yang diinginkan. Dari hasil lipatan-lipatan itu, tak jarang dengan sisipan bahan lain, seperti batu meteor atau jenis logam lain, akan diperoleh garis-garis tekstur yang akan muncul menegas setelah proses finishing bilah tersebut. Jangan dilupakan juga proses persiapan sang empu dalam menyiapkan dirinya mengerjakan tugas besar yang bisa makan waktu berbulan-bulan itu. Sang empu, selain menyiapkan perangkat ritual, juga menyiapkan mentalnya dengan laku spiritual yang khusus. Dari sinilah awam meyakini, keris yang dihasilkan nanti akan memiliki “kekuatan dalam” yang menebarkan perbawa, aura kekuatan, tertentu. Tentu saja, dari segi estetika semata, akan jauh kelihatan beda kualitasnya dengan keris suvenir kodian.

Jika keris itu adalah sebuah sajak, pastilah dapat dirasakan mana sajak buatan perajin yang sekedar memenuhi target produksi dan mana sajak buatan empu yang, demi menjaga kualitas, harus memenuhi kaidah-kaidah pakem yang tidak dapat ditawar-tawar. Tentu saja menempa sebilah sajak tidak harus menghabiskan waktu selama waktu menempa sebilah keris, walaupun beberapa penyair serius ada juga yang membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk menyelesaikan sebuah sajak. Yang lebih penting adalah etos kerja keempuan itu. Produktivitas, di sisi yang lain, pun tidak diharamkan. Nyatanya banyak juga penyair yang begitu produktif sembari tetap menjaga etos keempuannya. Memiliki etos keempuan sekaligus produktivitas semacam ini adalah sebuah kemewahan yang wajib disyukuri, tetapi jangan sampai tuntutan produktivitas itu mengurbankan etos keempuan itu.

Seorang pembuat keris, sebelum layak disebut empu, harus menjalani latihan-latihan yang berat, menimba ilmu sebanyak-banyaknya. Ia harus menguasai metalurgi bahan sama baiknya dengan ia menguasai palu dan tungku untuk memasak keris. Tetapi yang lebih berat adalah ilmu mengolah rasa, olah batin, agar keris masterpiece buatannya tidak terpolusi oleh ke-aku-annya, tidak dikotori oleh kekuatan-kekuatan rendah, dan yang paling penting agar keris itu bukan menjadi senjata pembunuh melainkan menjadi perlambang ketajaman kearifan penyandangnya dalam misi “memayu hayuning bawana”, memuliakan kehidupan di muka bumi. Dengan demikian, sebilah keris itu akan “hidup”, sebab sang empu telah menitiskan ruh kreatifnya ke dalam wadag sang keris.

Demikian pula sebaiknya seorang penyair dengan sajak-sajaknya.

Please follow and like us:

3 Replies

  1. kw Reply

    puisi yang bagus itu seperti gimana mas?

  2. TSP to Pandi Merdeka Reply

    kurang lebihnya prosesi semacam itu perlu juga bagi penyair. tentu saja bentuk prosesinya tidak perlu sama.

    salam juga,
    TSP

  3. pandi merdeka Reply

    wah apa penyair perlu prosesi gitu juga ya buat menyanding predikat penyair. salam mas mampir sebentar nih

    regard,
    merdeka

Reply