Membaca Karna, Membidik Keabadian

Karna, Ksatria di Jalan Panah
Urip Herdiman Kambali
Cetakan Pertama – Jakarta
PT Citranusa Surya Prima, November 2007
xli, 62 hlm.; 12 x 19,5 cm
ISBN (13) 978-979-3785-37-0
ISBN (10) 979-3785-37-3

Buku mungil ini saya terima dalam kondisi istimewa, disampaikan oleh kurir istimewa, di tempat istimewa. Terus terang, saya agak berdebar membuka sampul buku ini sambil terbayang buku UHK yang terdahulu Meditasi Sepanjang Zaman di Borobudur (Penerbit UHK, Depok, 2005). Saya berharap-harap cemas sembari mengingat-ingat karya adaptasi yang saya nikmati betul, Centhini, yang digarap oleh seorang jurnalis asal Perancis, Elizabeth D. Inandiak berdasarkan kitab Serat Centhini yang aslinya terdiri dari pupuh-pupuh (bait) syair tembang macapat dalam bahasa Jawa. Inandiak menerjemahkan dan memprosakan bentuk puisi Jawa tersebut ke dalam bahasa Perancis—Les Chants de l’île à dormir debut – le Livre de Centhini—yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia untuk disajikan kepada pembaca Indonesia. Dalam kerja penyaduran salah satu kitab penting dalam kesusastraan Jawa tersebut, Inandiak tak sungkan menyelipkan teks-teks dari berbagai sumber acuan yang lain, mulai dari teks kitab suci Quran, syair Jalaluddin Rumi, hingga cuplikan puisi Victor Hugo guna memperoleh efek sastrawi yang diinginkannya. Prosaisasi ‘kitab puisi’ Serat Centhini pun lalu menghasilkan sebuah roman Centhini yang encer, mengalir, dengan tetap mempertahankan kadar puisi yang terselip dalam larik-larik dialog maupun narasinya. Artinya, ada penyegaran bentuk maupun isi—dengan mempertahankan jiwa karya sumbernya—sehingga karya adaptasi tersebut memang bisa beradaptasi dengan sidang pembaca yang lebih luas.

Saya membayangkan buku puisi Karna, Ksatria di Jalan Panah (selanjutnya saya sebut Karna saja) ini menawarkan sebuah pendekatan yang baru bukan hanya bentuk penulisan melainkan juga tawaran tesis baru yang boleh saja melawan tesis pakemnya, baik dari pakem Jawa maupun India. Namun, dalam catatannya tentang buku ini, Totok AB Wibisono menyatakan bahwa semua fragmen Karna ini masih sesuai dengan pakem mainstream. Dalam catatan akhirnya UHK sendiri menyatakan bahwa ia memang ‘memilih’ pakem Mahabharata versi India, menyusun dan menyunting fragmen-fragmen Karna ini ke dalam alur ketegangan cerita menuju klimaks sebagaimana alur sebuah prosa fiksi. Saya mencari puisi dalam buku ini, dan saya tersesat dalam prosa (lengkap dengan gambar-gambar ilustrasi bergaya “manga” pula). Ah, tiba-tiba saya merindukan buku puisi UHK yang terdahulu itu.

Tetapi saya masih mempercayai UHK sebagai penyair yang selalu mengerjakan karya-karyanya secara serius. Bila saya gagal menemukan puisi dalam buku ini, saya harus berusaha menemukan puisi itu di tempat lain atau dari arah pandang yang lain. Terlintas juga untuk membaca buku puisi ini dengan mata yang lain. Tidak ada yang kebetulan dalam hidup. Buku ini sampai di tangan saya juga bukan sebuah kebetulan. UHK tergerak menulis tentang Karna juga bukan sebuah kebetulan. Saya meyakini kerja tangan gaib semesta. Ini pasti ada maunya, dan saya harus berusaha lebih serius untuk memahami kemauan semesta itu. Mengapa UHK menuliskan ulang kisah yang sudah saya akrabi sejak kecil di desa pesisiran utara Jawa Tengah itu? Mengapa ia memilih tokoh Karna alih-alih tokoh-tokoh Pandawa sebagai sosok ksatria? Mengapa jalan panah yang dipilih? Benarkah seperti ditengarai oleh Wayan Sunarta dalam pengantarnya, karena panah dan kata sama-sama tajam untuk melumpuhkan sasaran? Pertanyaan-pertanyaan pun mulai menggelitik dan mengajak saya melupakan hasrat saya akan puisi, menuju alam meditasi yang entah disengaja atau tidak sedang ditawarkan oleh UHK kepada saya lewat buku mungil bersampul hitam-putih ini.

***

Jalan panah adalah jalan perang. Jalan yang biasa ditempuh oleh kaum ksatria dengan kode etik yang melekat padanya, bushido. Do, tao, adalah jalan. Dalam pemahaman pragmatik jalan panah, jalan pedang atau jalan perang yang lain memang tampak semata-mata sebagai ketrampilan tempur untuk menaklukkan lawan. Tetapi, sebagaimana umumnya ilmu-ilmu timur, semua yang praktis itu serentak juga mengandung falsafah dan norma-norma spiritual. Semua yang mengarah ke luar, serentak juga membidik diri sendiri. Maka, saya kira semua tradisi mistik sepakat bahwa pertempuran yang terbesar bukanlah melawan musuh di luar, melainkan di dalam diri.

Dalam fragmen-fragmen dalam buku Karna ini kita dapat membaca pertempuran-pertempuran reflektif itu antara lain pada beberapa tokoh, seperti Kunti, Arjuna, juga Karna sendiri. Juga ini: baik-jahat, benar-salah, adalah sekedar peran yang harus dimainkan dalam panggung kehidupan, entah secara sadar atau tidak. Saya kira, ‘kesadaran’ akan pilihan peran inilah yang kemudian menentukan apakah seseorang mencapai nirwana atau tidak setelah kematiannya. Karna, tokoh yang ‘memilih’ untuk mengabdikan dirinya kepada pihak yang ‘salah’ itu, masuk surga sebab kesadaran dan kepatuhannya pada kode etik peran yang dipilihnya. Peran di panggung dunia, yang baik maupun yang jahat, itu adalah peran fisik (dimensi wadag), sedangkan kesadaran akan peran dan kode etiknya adalah peran spiritual (dimensi ruhani). Saya kira, kesadaran memilih peran (baca: misi) dalam menjalani kehidupan inilah yang banyak absen dalam kehidupan manusia kontemporer. Tak penting jalan apa yang kita pilih, selama kita menjalaninya secara sadar dan terus-menerus mengasah kepekaan diri agar jalan itu mengantarkan kita kepada maqam yang selalu meningkat setiap saat. Dan, ketekunan menempuh jalan itu pada akhirnya akan membawa sang pejalan itu melebur dengan sang jalan. Karna adalah sang panah dan panah adalah dirinya, seperti Musashi akhirnya menyadari bahwa untuk menjadi seorang ksatria tak terkalahkan dia harus melebur dirinya ke dalam sepasang pedang panjang-pendeknya, sehingga sang aku dan sang pedang adalah satu. Karna dengan sadar melepaskan baju zirah dan giwang saktinya sebab ketika sang diri dan sang panah adalah satu, maka senjata hanyalah sebuah aksesoris. Dan, Musashi sengaja memilih memakai boken (pedang kayu) yang dirautnya dari dayung perahu yang membawanya ke venue pertempuran hidup-mati dengan penantangnya yang memakai pedang tajam. Inikah yang sedang ingin ditunjukkan oleh UHK?

Sayangnya, dalam buku Karna ini tidak ada proses pergulatan Karna Suryaputra dengan dirinya sendiri sebelum menentukan misi hidupnya. Mungkin akan menarik kalau misalnya UHK berani menambahkan aspek ini dalam perjalanan Karna menuju pertempuran penentu, Karna tanding itu. Mungkin saya hanya sedang bernostalgia dengan sosok Musashi, ronin yang tidak berkedip membunuh lawannya, tetapi tidak berdaya melawan seorang ahli teh. Musashi rela meletakkan pedangnya, dan bergelut dengan pahat kayu mati-matian berusaha membuat sebuah patung, atau dengan kuas bambu untuk membuat sebuah tulisan halus. Semua upaya itu jelas bukan sebuah keisengan atau hobi, melainkan sebuah upaya menyembuhkan luka eksistensialnya, memahami misi hidup di tengah jalan yang telanjur(?) ditempuhnya, mencerahkan batinnya.

***

Kereta perang adalah properti vital dalam adegan pertempuran paripurna Pandawa-Kurawa di lapangan Kuru yang terkenal itu. Sosok sais kereta adalah orang yang paling menentukan keberhasilan sang panglima yang sedang bertempur di atasnya. Sang sais tidak sekedar mengendalikan kuda kereta, tetapi juga pengamat situasi dan penasihat taktis yang tak kalah pentingnya dengan sang eksekutor pertempuran itu. Salya untuk Karna. Krishna untuk Arjuna. Saya tertarik dengan peran sais dan keretanya ini yang entah mengapa memikat perhatian saya dalam meditasi menerawang buku ini.

Sebuah tradisi mistik Kejawen ada mengajarkan bahwa hidup seseorang sebagai individu dilambangkan sebuah kereta kuda dan saisnya. Kereta adalah tubuh fisik manusia, kuda-kuda itu adalah representasi nafsu-nafsu, dan sais adalah ruh suci manusia yang mengendalikan kuda-kuda itu. Bila saisnya lemah, kuda-kuda nafsu itu akan membawa kereta ke arah yang salah, bahkan bisa terguling. Sais harus mampu mengendalikan kuda-kuda itu agar kereta melaju ke arah yang benar. Karena itu setiap manusia harus mampu mengenali ‘kereta tubuh’, ‘kuda-kuda nafsu’, dan ‘ruh sucinya’ sebagai sais agar ia dapat menempuh jalan dengan selamat. Salya dalah sais yang tidak setia dengan “tuan”nya, Krishna adalah sais yang karena pengetahuannya atas skenario kosmik sengaja dipilih Arjuna mendampinginya. Tetapi Krishna adalah dewa, ia turut menjaga agar skenario berjalan semestinya. Salya bukan dewa, dan sebagai manusia dia harus membuat pilihan-pilihannya sendiri. Saya kira, kita tidak memiliki Krishna sebagai sais kereta kita, tetapi kita punya Salya. Dia bisa memilih pihak yang dibelanya, dia bisa setia atau khianat. Sais, “ruh suci” kita itu masih memiliki kepentingan, tetapi bukankah Karna memilih Salya karena dianggap mampu mengimbangi Krishna?

Hasil pertempuran pada akhirnya memang ditentukan oleh banyak faktor. Ketrampilan tempur yang ditentukan oleh ketepatan membidik sasaran (lihat meditasi Arjuna saat membidik kepala burung), skenario sang “dalang” dengan misteri-misteri “kebetulan”, serta pilihan keputusan yang diambil, menjadi penting dalam menentukan jalannya cerita. Akhir yang bagaimanakah kira-kira di ujung jalan yang sedang kita tempuh ini?

***

Terakhir, mengapa UHK menulis ulang kisah Karna ini? Apakah ia sedang mengidentifikasi dirinya dengan tokoh yang memilih pihak (atau jalan?) yang “salah” secara sadar? Awalnya saya memang menduga demikian, sampai di sajak terakhir (Kunti, Kekasih Para Dewa) saya dikejutkan oleh gambaran ini: UHK tidak sedang mengidentifikasi dirinya sebagai Karna, melainkan Kunti! Ia sedang menempuh jalan Kunti “yang bercinta dengan katakata/ bercinta dengan dewadewa”, dalam sebuah perjalan yang panjang, hening dan sunyi “menuju keabadian”!


Hasil pertempuran pada akhirnya memang ditentukan oleh banyak faktor. Ketrampilan tempur yang ditentukan oleh ketepatan membidik sasaran (lihat meditasi Arjuna saat membidik kepala burung), skenario sang “dalang” dengan misteri-misteri “kebetulan”, serta pilihan keputusan yang diambil, menjadi penting dalam menentukan jalannya cerita. Akhir yang bagaimanakah kira-kira di ujung jalan yang sedang kita tempuh ini?

Please follow and like us:

Reply