Menilai Puisi dari Judul

Puisi Kilat
Sajak KD

(1)
Aku puas dengan langit yang biru
Tanpa salju membeku seperti musim lalu
Aku puas dengan hatiku yang mengharu
Tanpa cinta pilu di tahun lalu

(2)
Musim kemarau belum berlalu
Dan daun jati sudah berhenti meranggas
Hujan belum nampak akan turun
Namun padang gurun mulai bersemi

(3)
Kami di sini bertanya-tanya
Ada apa gerangan di sana
Badai gurun berhenti berhembus sejenak
Menunggu apa yang akan terjadi

(4)
Jawablah rindu ini
Meski dalam kata terbungkus duri
Wujudkanlah harap ini
Meski dalam nada sehalus pasir

Judul sering kali menjadi masalah bagi penyair pemula. Tak jarang kita jumpai, misalnya di situs kemudian.com, karya-karya tanpa judul, atau justru meminta saran judul dari pembaca. Seolah, memberi judul jauh lebih sulit daripada menulis karya itu sendiri. Tak jarang pula kita jumpai karya-karya dengan judul yang asal-asalan, bahkan ada yang sengaja ditulis dengan mengacaukan huruf besar-kecil dalam tiap kata, sehingga judul itu menjadi tidak nyaman dibaca, terkesan main-main yang cenderung norak. Di sisi lain, kita juga tidak jarang menjumpai karya-karya puisi serius karangan penyair serius yang tidak berjudul, paling-paling hanya diberi nomor atau sekedar penanda tempat dan waktu penulisan puisi tersebut yang dijadikan sebagai judul.

Satu hal perlu dicatat dari paragraf di atas ialah, alasan absennya judul dalam karya bagi penyair pemula dan penyair kawakan bisa sama sekali berbeda. Absennya judul yang representatif pada sebuah karya yang dikarenakan penyairnya tidak mampu menemukan judul yang pas untuk karyanya ibarat seorang ibu yang bingung menamai anak yang baru saja dilahirkannya. Sementara, bagi beberapa penyair berpengalaman, absennya judul bisa saja karena kesengajaan estetik yang olehnya dapat dipertanggungjawabkan secara moral. Syair-syair macapat jawa, atau bentuk-bentuk puisi tradisional lainnya sering tanpa judul yang melekat pada tiap-tiap sajak. Ini kebanyakan karena tiap-tiap sajak tersebut merupakan bagian dari sebuah karya yang lebih besar.

Bagi saya, judul sebuah puisi adalah sangat penting. Pertama, ia adalah representasi dari suatu karya, seperti nama bagi seseorang. Judul ibarat tabik pembuka jurus sebelum sebuah pertarungan silat dimulai. Ia berfungsi memperkenalkan ‘isi’ dari jurus tersebut, tanda pengenal perguruan, sekaligus penghormatan bagi lawan tandingnya. Judul yang baik dapat memberikan sekilas gambaran tentang isi sebuah sajak, sekaligus sebentuk salam penghormatan bagi lawan tandingnya, yakni pembaca. Karena itu, menemukan judul yang pas, sebagaimana menamai anak yang baru dilahirkan, adalah sama pentingnya dengan puisi itu sendiri. Dan saya kurang beruntung kali ini, sebab ideal saya tentang judul yang baik itu tidak saya dapatkan pada Puisi Kilat ini.

Judul Puisi Kilat ini sama sekali tidak memberikan bekal bagi saya untuk memasuki pintu keempat bagian puisi ini. Satu-satunya citra yang saya tangkap adalah bahwa puisi ini ditulis secara cepat, secara kilat, secara instan! Saya tidak pernah bisa mempercayai sebuah karya instan, sebagaimana saya tidak pernah percaya khasiat nutrisi makanan cepat saji. Tidak ada energi potensial yang terhimpun di sana, tidak ada nutrisi seperti camilan yang hanya terbuat dari gumpalan debu tepung.

Dengan mengabaikan judul tersebut, saya mencoba membaca empat bagian puisi yang masing-masing terdiri dari empat baris. Pilihan bentuk kuatrin, empat baris seuntai ini sangat jelas menampakkan adopsi bentuk-bentuk puisi lama. Sayangnya, bait-bait berbaris empat-empat yang tertib ini justru kurang tertib dengan rima, dengan persajakan bunyi akhir. Ternyata hanya bagian (1) dan (4?) saja yang menggunakan persajakan dengan pola syair a-a-a-a. Setiap pilihan bentuk wadag puisi saya kira amat memengaruhi kesan dan kekuatan sebuah puisi, tentu saja selain aspek-aspek lainnya semisal diksi, tema, dll. Pilihan bentuk tertib seperti ini akan lebih berdaya apabila tertib pula memberdayakan elemen-elemen lainnya selain jumlah larik tiap baitnya, misalnya persajakan itu tadi. Paling tidak, jika tidak ingin mengikuti pola secara ketat, ada permainan kreatif atas elemen-elemen itu. Saya kira, sajak ini akan lebih utuh jika bagian (2) dan (3) juga mengikuti pola persajakan tertentu.

Dari segi tema, sajak ini juga tidak terlalu menawarkan sesuatu yang lain. Kita hanya disuguh selembar catatan harian, saat sang Aku-lirik menyadari momen pancaroba, momen peralihan antara masa lalu dan masa depan. Ini tema yang biasa sekaligus berpotensi menjadi luar biasa bila digali lebih jauh.

Konon, setiap peralihan dua alam terdapat pertemuan energi yang luar biasa. Itulah sebabnya mengapa para pencari ilmu kesaktian suka bertapa di tempat-tempat perbatasan antara daratan dan perairan, antara sungai dan laut, bahkan di puncak gunung perbatasan darat dan langit. Juga di perbatasan waktu antara malam dan pagi, sore dan malam, pagi dan siang. Sajak ini pun mengesankan perbatasan antara masa lalu yang mulai berjarak di belakang dan masa depan yang sayup-sayup mulai terbayang namun belum mampu terindera. Haru akan kenangan pilu masa lalu dan rindu pada harap masa depan, terpampang jelas dalam sajak ini, tanpa pengolahan lebih lanjut. Ia hanyalah sebuah catatan harian, sebuah potret peristiwa, tanpa ada sentuhan kreatif di dalamnya. Ini memang tema yang cliché, sehingga tanpa upaya lebih untuk mengolahnya, tema ini hanya akan menjadi sebuah daur ulang.

Empat bagian yang cair jika dapat dikristalkan menjadi satu atau dua bait saja namun padat, mungkin akan dapat membuat sajak ini lebih bertenaga. Tentu saja dengan judul yang lebih sungguh-sungguh. Berpuisi saya kira adalah sebuah kegiatan ruhani yang bukan main-main. Meski selalu ada kadar kebermainan (playfulness) dan indera jenaka yang memicu kreativitas, kerja puisi mensyaratkan upaya yang sepatutnya.

_______________
Tulisan ini dibuat untuk Kemudian.com sebagai bagian dari kegiatan KOPDAR II Kemudian.com. Pada saat menulis komentar ini saya tidak diberitahu siapa penyairnya.


Konon, setiap peralihan dua alam terdapat pertemuan energi yang luar biasa. Itulah sebabnya mengapa para pencari ilmu kesaktian suka bertapa di tempat-tempat perbatasan antara daratan dan perairan, antara sungai dan laut, bahkan di puncak gunung perbatasan darat dan langit. Juga di perbatasan waktu antara malam dan pagi, sore dan malam, pagi dan siang. Sajak ini pun mengesankan perbatasan antara masa lalu yang mulai berjarak di belakang dan masa depan yang sayup-sayup mulai terbayang namun belum mampu terindera. Haru akan kenangan pilu masa lalu dan rindu pada harap masa depan, terpampang jelas dalam sajak ini, tanpa pengolahan lebih lanjut. Ia hanyalah sebuah catatan harian, sebuah potret peristiwa, tanpa ada sentuhan kreatif di dalamnya. Ini memang tema yang cliché, sehingga tanpa upaya lebih untuk mengolahnya, tema ini hanya akan menjadi sebuah daur ulang.

4 Replies

  1. Holy Adibz Reply

    ulasan yang menarik mas Ts pinang. aku juga mau puisiku dibahas seperti ini.

    salam santunku.

  2. ana Reply

    prosa juga terkadang sangat sulit ditafsirkan.

  3. david ezra Reply

    ini adalah puisi saya, teman saya yang mengirim puisi ini lupa mencantumkan catatan di bawah judul:

    ::untuk komunitas sanggar piramida di Mesir

  4. Era Reply

    terlalu dangkal penapsiran anda terhadap puisi tersebut. puisi berbeda dari prosa. prosa sekali baca langsung tahu isinya dan makna prosa sama bagi semua orang. tapi puisi, semakin banyak yang membaca, maka semakin banyak makna yang timbul. puisi perlu dihayati, dimaknai secara seksama. maka dari itu, orang lebih suka bikin skripsi tentang prosa daripada puisi. puisi sulit untuk dipahami, namun membangkitkan semangat jiwa.

Reply