Sudah Malam di Yogya

: TS Pinang

SUDAH malam di Yogya, ketika pesawatku tiba.

Kita bersalaman, dua tangan, kiri & kanan,
itu pun belum cukup, sebenarnya, katamu,
“Untuk pertemanan ajaib. 7 tahun yang gaib.”

Lalu malam kita serahkan pada sebuah kedai,
pemiliknya suka berkebun buku. “Di sini, tiap
terang bulan, para puisi hidup & para penyair
memastikan, “di dalam kata kita tak ada matinya.”

“Di atas itu, ada lapangan bulu tangkis,” katamu
dari meja yang tinggal daftar menu. Juru masak
sudah pulang, sejak petang. “Tapi penyair lebih
peka telinga, mendengar angsa-angsa menangis.”

Kau pun menyebut yang saut, mengenang situmorang.

*

AH, sudah malam di Yogya, ketika pesawatku tiba.

Reply