111. Perihal Rantai Tradisi

DI RUANG ini, Penyairku, dulu sekali pernah kutuliskan tentang ziarah ke bentuk-bentuk puisi lama. Seorang kawan baru-baru ini gelisah dengan puisi lama yang penuh aturan ketat dan puisi “modern” yang bebas dan lebih ekspresif. Lalu ini: (jejak-jejak) puisi lama yang hadir dalam karya puisi mutakhir; apakah masih bisa dibilang puisi yang dihasilkan termasuk “modern”?

Ada yang bilang, seorang pengarang tak bisa lepas dari sejarah dan akar tradisi. Aku kira aku setuju. Betapapun “modern” (bahkan “pascamodern”) seorang pengarang menggubah karya yang tampak seolah lepas bebas dari rantai sejarah peradaban (baca: sastra), kurasa ia tak dapat sungguh-sungguh lepas dari bayang-bayang akar primordialnya. Aku percaya rekaman ingatan kosmik, termasuk sejarah, tradisi dan warisan peradaban, termasuk sastra di dalamnya, akan selalu tercatat dalam database DNA seorang pengarang sebagai rangkaian proses evolusi.

Ah, Penyairku sayang, maafkan kecerobohanku dalam berbual tentang hal ini. Pustakaku tak terlalu tebal. Ini hanya obrolan seorang penyair yang sedang menua tapi tak kunjung merdeka dari bebal!

Please follow and like us:

Reply