112. Ketika Ragu Mengganggu

PENYAIRKU, bayangkan saja. Kau telah payah berbusa-busa dengan kata, menulis sepanjang kau bisa, mengerahkan segenap daya puitika yang kau punya. Lalu kau siarkan di blog pribadi, situs komunitas, milis, bahkan kau kirimkan lewat SMS ke kawan-kawan dekat.

Ada yang membalas SMS-mu, ada yang mendiamkan, ada yang memberi komentar, ada yang memuji, ada yang menghina. Satu saat hatimu berbunga membaca pujian, saat lain meragukan pujian itu ketika membaca kecaman. Satu saat kau mendengar seorang penyair kawakan memberi saran, tips and tricks bagaimana teknik membuat puisi yang begini dan begitu. Penyair lain memberi input yang beda, bahkan tak jarang bertentangan dengan saran penyair yang tadi. Kau merasa usahamu telah cukup berdarah, bergetah, sementara balikannya tak seperti yang kau harapkan. Kau pun merasa mentah, arangmu patah, entahlah. Mungkin ini saat yang baik bagimu untuk menyerah dan berbalik arah.

PENYAIRKU, di saat musim berubah dan cuaca tak lagi ramah semacam itu, saat keraguan terasa begitu mengganggu hingga jemarimu kelu, numb, mati rasa, ada baiknya engkau menarik kursimu ke belakang. Lalu kau luruskan tulang punggungmu, rentangkan tanganmu dan hiruplah sebanyak-banyaknya oksigen. Pelankan nafasmu, lalu cobalah mengingat kembali saat pertama kali kau memutuskan mulai menulis puisi. Bukalah kembali laci ingatanmu, dan carilah catatanmu pertama-tama yang mungkin berjudul “Mengapa Aku Memilih Menulis Puisi”.

Penyairku sayang, saat kau ragu jalan yang kau tempuh, berhentilah dahulu. Kalau perlu kembalilah ke tempat di mana semuanya bermula, tempat kau menapakkan langkah pertama.

4 Replies

  1. wahmuji Reply

    begitu membaca puisi anda, saya selalu tersihir untuk merenungi kembali pemikiran saya..

    dan..tulisan-tulisan lain anda menyiratkan kecintaan yang indah terhadap penyair dan proses kepenyairan.

  2. Jati Reply

    betapa tulisan yg memberi seteguk semangat. terutama "Mengapa Aku Memilih…"
    aku rasa hal ini tak hanya tentang puisi saja, tp berlaku untuk semua hal yg berhubungan dengan pekerjaan kita.
    aku menyukai puisi, kadang membuat, sering membaca, tapi tak bisa membalas.
    akupun tidak pernah mengharap balasan ketika membuat puisi. mngkin itu bagian tulisan ini yg aku pribadi kurang dapet.
    puisi bagiku adalah curahan jiwa, dan tak ada jiwa lain di sekitar yg mengerti jiwa kita. maksudnya cm mo ngomong kalo puisiku jelek2 😀
    aku suka puisi2 anda mas pinang, walaupun kadang ada yg ga ngeh 😀
    oia ada email yg nyasar ke admin http://mediasastra.com buat mas pinang: "puisimu begitu indah…"

    semangat terus

    salam
    Jati

  3. MURIDTELMI Reply

    Pakguru… gak jadi deh 😀

  4. andi tafader Reply

    Baik, baik, Om TSP. I’ll do it.
    Ijinkan aku menyelam sambil minum air di sini …

Reply