113. Tentang Sajak-sajak Panjang

PENYAIRKU, menulis sajak-sajak panjang tak kalah menantangnya dengan sajak-sajak pendek. Jika sajak-sajak pendek menantang penyair untuk memilih kata-kata yang benar-benar mangkus dan sangkil dalam baris yang minimal untuk menembakkan kesan sedalam-dalamnya pada pembaca, sajak-sajak panjang menantang penyair untuk menjaga pesona puitiknya dari baris pertama hingga terakhir.

Sajak-sajak panjang menuntut stamina si penyair dalam menjaga agar baris-baris sajaknya tidak jatuh membosankan. Sajak-sajak panjang yang hanya mengulang-ulang baris yang tak perlu, menghambur-hamburkan kata yang tak perlu, menambah-nambahkan kata/frasa/kalimat yang tak perlu hanya demi memanjang-manjangkan sajaknya bisa dipastikan gagal. Alih-alih merampungkan pembacaannya, seorang pembaca sajak semacam ini boleh jadi akan menghentikan pembacaannya setelah bait pertama.

Sajak-sajak panjang memerlukan energi lebih untuk menuliskannya, memerlukan kecermatan tinggi. Kalau sajak pendek bisa dianalogikan dengan cerpen, sajak panjang bisa dianalogikan dengan roman/novel. Setiap baris dan bait dalam sajak panjang dituntut mampu menahan minat pembaca untuk terus merampungkan pembacaannya. Sajak-sajak panjang nyaris tak mungkin dihasilkan dalam kerja sekali jadi. Sajak panjang bukanlah cerita jurnal yang sekali ditulis bisa berlembar-lembar. Sajak pendek menuntut kedalaman makna dalam kejernihan kristalisasi pengungkapan, sajak panjang menuntut kedalaman sekaligus keluasan wawasan batin si penyair. Dalam sajak-sajak panjang, penyair seakan dituntut mendemonstrasikan ketrampilannya mengunjukkan kekayaan diksi, kemerduan musikalitas, kedalaman hikmah dan keluasan bacaannya akan buku kehidupan.

Menulis atau membaca sajak panjang tidak lebih sulit atau lebih mudah daripada sajak pendek. Panjang atau pendeknya sebuah sajak tidak semata tergantung selera penyair tetapi lebih tergantung pada kebutuhan sajak itu sendiri. Sajak yang memang perlu pendek tidak usah dipanjang-panjangkan, sajak yang memang perlu panjang tak usah dipendek-pendekkan.

Penyairku sayang, panjang atau pendek sajakmu, cukupkan seperlunya saja. Itulah kesederhanaan sajakmu, kecantikannya yang jujur. Itulah puisi. Tak?

Please follow and like us:

1 Reply

  1. paundra Reply

    wah..tulisan ini benar2 sangat berguna bagi saya

    salam kenal,
    langitjiwa……

Reply