Empat Kiblat dan yang Kelima Adalah Puisi

ke selatan aku menyelami samudera huruf-huruf hidup. berenang-renang di sela karang, berkelit dari kail para pemancing subuh. di selatan itu, muasal kisah-kisah purwa, telah gempar oleh sampar hyang semar. dasar palung yang retak hendak mengguncang langit, menggugat kalimat-kalimat tunagramatika yang sengit di setiap lidah: begitu sangit.

ke utara aku mendaki mehru huruf-huruf mati. beterbangan di guguran lahar dan batuan bara, bersiasat dengan abu sejarah dari tungku hasrat paling nyala. di puncaknya mengepul angan-angan swargaloka dewa-dewi yang luka. di puncaknya mengendap mantra-mantra api para empu yang terpenjara oleh dendam: kesumat tak kunjung redam.

ke timur aku menjaring silau fajar yang melahirkan kata-kata. berkicau sejak kokok jago yang kini tak lagi tunduk pada matahari, sebab siang telah sesat dalam keramaian malam di kotak-kotak hiburan. lampu-lampu jalan menjelma tanda-tanda baca dalam kalimat-kalimat langit. begitulah dewa pembawa piala kencana mulai mengenal sakit mata. dan ke timurlah aku ingin kembali mengenal hakikat cahaya: benderang paling purna.

ke barat aku memalingkan pejam mata, menghindar kutuk senja pembawa petaka. di batas terang dan malam itu seringai monster kala tak capai mengintai, mengendus syahwat yang mulai menghangat hingga malam gerah dalam lenguh dan uap keringat. kalimat-kalimat menggeliat ingin lepas dari larik-larik doa di kitab sarengat. ke barat aku memutar jarum jam ke sudut waktu yang absen dari busa prosa: tawar dari racun bisa.

ke dalam aku terhisap dalam relung tanpa kenang tanpa harap. musnah dalam kegelapan sajak: lesap.

Reply