Musim Pertama

-kepada Tulus Widjanarko

di negriku sudah tak ada kartupos untuk mengabarkan musim-musim yang berlari lebih cepat dari lamunan. setiap sajak yang kubajak selalu gagal membenihkan kecambah kenangan menjadi bulir-bulir puisi. inilah kita, terjebak di rimbun embun yang buru-buru lenyap sebelum sempat kita taklukkan jernihnya yang anggun.

di negriku sedang musim pertama tahun ini. tahun di mana kata-kata telah lelah dan leleh menjadi lolong tangisan. hujan tak lagi tawar, tak lagi asam, tak lagi air. hujan kini kian liar, kini kian kejam, kini kian airmata. sajak ini kucatat dengan kata-kata yang selamat, dari amis musim yang bernanah: abses di kelamin puisi akibat zinah.

di negriku aku mencoba bertahan untuk tidak selingkuh. begitu banyak paha dan dada menantang puisiku serupa lirikan gadis. kucoba tetap kukuh, sebagaimana batang jati di musim-musim yang pernah kita kenangkan setiap subuh jatuh. kudengar kabar, banyak negri yang bubar tersebab tapa yang cabar. baiklah kita coba bertetap, di musim apapun, di negriku yang gemetar, negrimu yang telantar.

di negriku musim pertama kini. musim yang basahnya menggigilkan mimpi. kini aku sedang belajar menghitung pucuk-pucuk lancip daun bambu cina di depan rumah, tempat sajak-sajakku kutitipkan hingga hujan reda. sebab di musim pertama setiap tahun aku mencatat, airmata mengembun genangi dada. sedangkan kita setiap kali mencoba mencari kisah yang beda. hingga hujan reda.

Reply