Rekaman Cuaca 2

kekas ngilu di sendi menggerogoti senja ini serupa lumut di batu candi. penyair itu percaya tentang bintang-bintang yang terlahir kembali, tujuh putaran setiap kali. begitukah cinta yang kita yakini, hidup dan mati berkali-kali? pegal-pegal yang menggerus tulang tua terasa begitu kekal, seperti badai musim basah mencatat setiap batang pohon yang terjungkal. angin muson menyibak daun-daun kalender di kamar penyair, di jantung takdir. kabut yang datang dari angkuh-anggun gunung mengusung keringat musim, begitu payah menjaga firman-firman alam. penyair itu mengerti, Merapi tua takkan abadi menjaga hangat dadanya sebab lama ia mendamba istirah sejenak, namun kitab ini begitu tebal tak kunjung khatam dirapal. setiap malam sepanjang tahun, penyair itu tak letih menghitung hujan, dan serabut ingatan yang jatuh bersama rintik menderas. musim demi musim berputar begitu gegas seperti mimpi-mimpi yang berkilasan begitu lekas, berpacu dengan subuh yang buru-buru pecah. tak ada bekas. dan dalam cekau dingin malam membesi, langkah mesti dibuat hati-hati, menghindari beling-beling kenangan di lantai ingatan. sepenuh ia percaya pada embun pagi, penyair itu tergupuh memilah puisi dari setiap jingkat kaki.

Reply