Sajak ke Lain Hati

:kepada TSP

Semenjak sajakmu tiba-tiba tumbuh serupa rumpun senyum di seberang jendela, aku selalu tak sabar menunggu pagi menjelang. Kubayangkan senyummu menerobos jendela dan membelai wajahku yang pasi. Aku akan terbangun penuh semangat seperti kemarin, memulung sampah dan serapah yang setiap malam terserak di kamar ini. Kan kusimpan dalam kantung karet yang terus menggembung, karena tak kuat lagi menampung potongan cerita ini, cerita di luar skenario, begitu kata dia yang merenggut bulan dari malam-malamku.

Gersang tanah ini mulai lembab oleh kata-katamu yang menjelma tetes-tetes hujan, membasuh setiap retak jejak kemarau. Rerumputan dan pepohonan berpesta siang malam, mengucap syukur, mengamini doa lapang jalan dari sajak keraguan yang lama kugantung di balik pintu.

Setiap kali kubuka jendela, rinduku nyelinap begitu saja ke hangat birahimu, ke setiap degup jantungmu. Tak bisa kutahan lagi tunas cahaya yang nyembul di labirin gelap ini. Malam ini kan kuselipkan tiga kata saja di larik sajakmu. Senyumlah seperti biasa dan sewajarnya, semoga tak tercipta sedih yang lain. Kamar ini kan jadi saksi betapa aku tak lagi bisa bersabar lebih jauh bersamanya. Tak mampu lagi kupulung sampah dan serapah yang terus menggunung, mengurung. Aku harus keluar, sekarang. Kau sudah tahu tiga kata itu? Berilah tanda bila sajakmu memang belum rampung.

(20 Pebruari 2008)

Reply