Sapu Lidi 2

liur merahmu, nenek
adalah dongeng kanak
yang mengutukku setiap malam
airmata tertahan di pangkal nafas
seperti pinang jambe yang kau kunyah
bersama kapur gambir

malam-malamku yang gigil
dan senyummu yang kadang hadir

inikah cinta yang kau ajarkan tanpa bahasa
hanya lewat keriput tanganmu dan tembang mantra?

di sini, tanah yang jauh dari mimpimu
ada yang mencoba menawarkan rindu
menguapkan tangisan diam-diam
ke ujung jemari

meski kau tak pernah ajarkan
tapi darimu aku belajar puisi
yang kau tuliskan setiap pagi
setiap kali kau sapa pekarangan kita
dengan sapu lidi

Dimuat di Jurnal Nasional, Minggu, 04 Mei 2008

2 Replies

  1. titiknol to Obe Reply

    OBE yang baik, terima kasih atas komentar dan perhatian anda. soal kesan "keragu-raguan" yang mengganggu anda, saya mohon maaf. tapi, bukankah keragu-raguan juga bagian dari hidup, dari puisi? salam terbaik untuk anda. –TSP

  2. OBE. A.MARZUKI Reply

    Saya suka sekali beberapa dari puisi anda.
    apalagi yang berjudul sapu lidi.Tetapi yang sangat saya sayangi kenapa di beri tanda baca "?" karena akan memberi kesan keragu-raguan. terimakasi
    menlislah terus. Salam saya. OBE

Reply