114. Narasi Jazz dan Puisi Abstrak Expresionis*

SEJAUH menekuni puisi aku sampai saat ini masih mempercayai puisi itu semacam musik jazz yang penuh kelok-tikung improvisasi yang pada titik-titik tertentu bisa begitu jauh melenceng dari komposisi standar, tapi selalu ada saatnya kembali ke piring saji. Ada tarik ulur antara kenikmatan yang nyaman dan kesumbangan yang disengaja untuk mengganggu, menggelitik, menggoda, mengusik. Kalaupun ada narasi yang muncul dalam sebuah sajak, bagiku masihlah jazz. Yakni blues yang merintih dalam raungan harmonika blues harp yang ekspresif melengking bertenaga. Narasi dalam sajak kuanggap bukan seperti lirik lagu melankolik yang mudah diduga nadanya sebab begitu sering muncul dalam lagu-lagu yang nyaris sama.

Boleh juga aku bayangkan serupa lukisan. Puisi tidak pernah kuanggap sebagai sebuah imaji naturalis yang realistis atau bahkan lebih “indah” dari realita ujud. Alih-alih, ia kuanggap sebagai sebuah lukisan expresionis atau abstrak atau abstrak-expresionis. Narasi dalam sajak bagiku semacam bentuk-bayang yang masih dapat diduga acuannya dalam alam real, namun telah kehilangan rinci visualnya sebab imaji yang ingin hadir adalah sebagai ilusi kenangan: realitas yang dibingkai dalam tudung semitransparan, sekali lagi dengan tujuan mengusik, menggoda, memprovokasi. Sesekali abstrak merebut dominasi, namun tak pernah benar-benar gelap. Narasi dalam sajak membuat kegelapan yang abstrak sesekali hadir dalam remang yang agak jelas menampilkan garis bentuk, meski masih berkisar di ambang absurditas dan logika.

Penyairku, aku suka jazz meski goyangku tetap saja dangdut. Kamu?

_______________
* kali ini saya memilih menggunakan ejaan “expresionis” alih-alih “ekspresionis” sebagaimana “sex” alih-alih “seks”

Please follow and like us:

Reply