Gelagar

gelagar itu membentang dari ubun kepala ke ujung utara di mana puncak kalderamu masih menyala. gelagar itu menjadi jembatan antara mimpi-mimpi jalang dan totem batu yang menjulang. gelagar itu seakan menyatukan celah bumi tersebab gegar. gelagar itu, bermula tugu yang tumbang. bumi gemar gemetar, kami berpeluk gentar.

gelagar itu. membentang dari malam tertinggi hingga siang benderang. sebagai horizon yang kami tapaki. hati-hati. bagai subuh mengendap mengupas matahari, kami lipat tabir matahati.

singgahlah, akan kami suguh kalian sepiala sepi, semerah anggur api. lalu kita berbincang sekhidmat sakramen suci merayakan cinta dan benci. sambil duduk kita di bentang gelagar itu, sementara di bawah sana jurang terpentang sepanjang benang layang-layang. dan langit yang membayang.

Dimuat di Kompas Minggu, 15 Juni 2008

1 Reply

  1. andi tafader Reply

    banyak kosakata baru kupetik di sini
    poko’e puisina sangkil banget heheh

Reply