Jadi, dimanakah puisi?

Kepada TS Pinang

punggung bukit itu dulu sunyi
kini riuh suara langkah kaki, derai tawa, isak tangis, juga caci maki.
kau telah memulainya. memangkas semak. menyingkap onak. menepikan duri
menjadi jalan setapak. kita sama-sama mendaki
dari kaki bukit selatan kau daki. dari kaki bukit utara ku susuri.
lalu kita bertemu di simpang jalan ini. tapi dimanakah puisi?
puisi adalah jalan. dan setiap orang memilih jalannya sendiri. katamu
bersungguh
hmm, katamu puisi adalah jalan?
ya
kita telah sama-sama membuka jalan setapak. lalu bertemu disini
ya
bukankah itu artinya kita pemilik puisi di sepanjang jalan ini?
puisi tak bisa dimiliki
jadi tak adakah pemilik puisi?
ya, apalagi dikuasai. walau ia diberi wadah istana megah penuh atribut materi.
pada dasarnya puisi anti materi. karena sifat materi mengikat. sedang puisi
berjiwa merdeka
puisi jelas bukan semacam caleg. ia lebih tinggi dari sekedar puncak bukit
ini.
bahkan sesungguhnya ia lebih bernilai
dari semua bentuk material di bawah bumi yang kita pijak ini.
”jadi dimanakah puisi?”
kau beranjak pergi. kembali menyusuri jalan mendaki.

bekasi/maret/08
Zai Lawanglangit

Reply