Selasar

sepanjang lorong kita berbincang tentang pohon rambutan dan rumah, tentang hujan dan harga sejengkal tanah. kita berbincang tentang hati dan semua yang tak kita miliki. kita bicara tentang pijat refleksi dan cara langsing lewat meditasi, tentang dunia kanak yang lucu dan masa depan yang sangsi.

kekasihku, selasar ini cukup panjang untuk memajang lukisan-lukisan kita pada kanvas waktu, aroma warna dari getar mantra di telapak tanganmu. bahkan tiap petak ubin kelabu seakan menjelma, jadi bingkai bagi bayang tubuhmu. selasar ini memang senyap dan bisu, seperti laut yang gumamnya hanya bisa didengar kalbu. sepakat menyediakan hening bagimu, bagiku.

marilah kita tetap berjalan sebagai musafir, melukisi dinding sepanjang selasar ini. hingga akhir.

1 Reply

  1. andi tafader Reply

    jangan cuma di selasar, masuklah ke dalam, ada banyak air mata dan tawa di atas meja.

Reply