Tangga

satu. kami membiasakan melangkahkan kaki kanan. ini perjalanan yang bisa panjang. kami menengadah sebab lantai kayu di atas itu telah menunggu. dua. kami melangkah lagi, dengan kaki kiri. dan di antara pijak satu dan dua, kami mencoba menghafal doa. lalu tiga. kami bayangkan sungai seribu rupa, di suatu lembah, di surga. empat. lihatlah, betapa banyak yang harus diingat. dan dalam putaran yang begini padat, mana sempat kami berpindah tempat?

lima. di telapak kaki yang kanan kini, kami teringat nama-nama. enam. kaki kiri. kami tersedak kenangan silam. tujuh. dada kami yang gemuruh. delapan. kami tersentak, rumah kami ini mudah tumbang: atap rumbia dan dinding papan!

sembilan. kami melihat di kaca jendela, menempel gambar rembulan.

Dimuat di Kompas Minggu, 15 Juni 2008

Reply